Kartu Truf

Dhea berjalan ke kamar mandi. Gemericik air terdengar dari balik pintu yang tertutup, tanda ada orang di dalam. Dhea menunggu. Sesaat berselang pintu terbuka. Seorang gadis keluar sambil mengeringkan telapak tangan dengan tisu. Keduanya bertemu pandang, terkejut dan berseru bersamaan.

“Dhea!”

“Ira!”

Mereka berpelukan. Sesaat kemudian Dhea merenggangkan pelukan, menatap dengan gembira.

“Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

“Baik.”

Ira menepi.

“Kau mau ke kamar mandi? Silakan.”

Sekeluarnya Dhea dari kamar mandi, mereka bersama-sama ke depan.

“Terakhir kita bertemu di pemakaman Tante. Sudah lama sekali,” ucap Ira.

Dhea tersenyum kepada keponakan ibunya.

“Ya, sudah lama sekali.”

“Ada masalah, Dhe? Kau seperti sedang banyak pikiran.”

“Banyak yang terjadi setelah orang tuaku meninggal, Ir.”

Pesanan Dhea diantar. Dua sepupu itu menunggu si pelayan pergi sebelum melanjutkan pembicaraan.

“Coba ceritakan,” ujar Ira serius.

Dhea menurut.

“Saudara-saudaramu benar,” kata Ira usai Dhea bercerita. “Mereka juga berhak atas rumah itu.”

“Aku tahu,” cetus Dhea, “Aku hanya keberatan bila mereka menjualnya.”

“Sudah coba membicarakannya?”

“Puluhan kali,” Dhea mendesah. “Kau tak tahu bagaimana mereka.”

“Kau bisa tinggal di tempatku untuk sementara.”

“Bukan itu masalahnya, Ir. Aku bukan cemas di mana akan tinggal. Aku tidak ingin pergi dari rumah dan membiarkan mereka berbuat seenaknya.”

Sejurus kemudian Ira melambaikan tangan, matanya tertuju ke balik punggung saudara sepupunya. Binar kegembiraan terpancar. Dhea berpaling. Seorang pemuda berjalan menuju meja yang mereka tempati. Dhea meraih tas, bersiap pergi.

“Terima kasih sudah mendengarkanku, Ir. Aku pergi dulu.”

“Jangan. Kita bisa makan bertiga.”

“Tak apa. Aku memang harus pergi.”

Arsip Cerpen di Indonesia