Dulu ketika orang tuanya masih ada, sebagai anak tunggal Arman selalu mendapatkan perlakuan istimewa. Saat itu ia masih duduk di bangku SD. Tidak ada yang kurang dalam hidupnya. Arman hidup dalam limpahan kasih sayang. Tetapi ayahnya sangat disiplin dalam mendidik anaknya yang semata wayang ini.
“Kamu laki-laki, dunia yang luas ini harus ada dalam genggamanmu,” begitu nasehat ayah pada Arman. “Makanya kamu harus rajin belajar.”
Ayah dan ibu Arman meninggal dalam kecelakaan saat mereka bepergian ke Banda Aceh untuk menghadiri pesta temannya. Arman tidak ikut karena ia harus ke sekolah.
Namun kepedihan hatinya tidak sehebat yang dialaminya sekarang. Saat mendengar berita duka, bahwa Abusyik telah meninggal, Arman tak mampu membendung air mata. Seketika tatapannya menjadi kosong, tak ada kata yang terucap.
“Kamu gak apa-apa Arman?” Arman tetap membisu setelah mendengar kabar yang disampaikan tetangganya di kampung melalui telepon seluler. Rasanya tidak mungkin ini bisa terjadi. Baru dua hari yang lalu Abusyik mengirimkannya uang, dan dalam bulan ini pula Arman akan menamatkan pendidikannya karena ia sudah memperoleh jadwal sidang skripsinya. Sidang yang menentukan ia akan menjadi seorang sarjana. Sebuah kebanggaan yang ingin ia persembahkan kehadapan Abusyik. Tetapi Tuhan lebih menghendaki Abusyik tidak menyaksikan kegirangan hati cucunya yang selama ini telah dibesarkannya.
Tiba-tiba Arman terkejut dengan rebahan badan penumpang di samping yang jatuh ke tubuhnya. Arman hanya menolak tubuh gempal itu untuk kembali pada posisinya semula. Teman sebelahnya itu ternyata sedang tertidur pulas.
Sejak bus bergerak dari stasiun tadi, Arman lebih memilih untuk tidak berkomunikasi dengan kawan sebelah. Dia merasa lebih nyaman menyendiri mengenang perjalanan hidup yang sedang dialaminya. Wajah Abusyik tak kuasa untuk disingkirkan dari bayangan dalam pikirannya. Dengan cara itu, ia merasa kepulangannya kali ini akan disambut dengan senyum bahagia dari Abusyik. Seperti biasanya dengan senyum itu Abusyik memeluknya sambil mengeluskan tangannya di belakang kepala Arman.
“Kamu gagah seperti ayahmu dulu,” kata Abusyik.
Abusyik sangat suka berdiskusi dengan Arman. Ia ingin cucunya ini cakap dalam berbicara. Bagi Abusyik dengan cara ini nilai-nilai kehidupan bisa ditanamkan ke dalam benak Arman. Masih segar dalam ingatan Arman, ketika Abusyik menceritakan tentang Guha Tujoh di Laweueng.
“Di antara tujuh pintu gua itu, ada satu pintu yang bisa tembus ke Tanah Suci Mekah,” kata Abusyik.
Sontak Arman tertawa mendengar hal yang konyol ini.