“Betapa bahagianya mereka,” Arman membatin.
Kini Arman pun sudah bisa menghirup lagi udara segar terminal Kota Sigli. Kota di mana ia lahir dan dibesarkan. Tempat ini pernah jadi saksi, ketika Abusyik tak berdaya menahan tumpahan air mata saat melepaskan Arman untuk berangkat ke Medan melanjutkan pendidikannya beberapa tahun silam.
***
Arman berdiri tegak memandang foto Abusyik yang sedang merangkul bahunya ketika ia baru tamat dari SMA dulu. Sebuah foto lama yang terpampang rapi di dinding ruang tamu rumah yang sekarang diwarisinya. Arman ingin Abusyik bisa ikut merayakan keberhasilan yang telah ia gapai. Arman sangat bahagia, ia yakin Abusyik pasti bisa merasakan kebahagiaan ini. Kebahagiaannya pun bertambah –tambah, saat ia mengingat kembali cerita salah satu dari tamu yang hadir pada keduri tadi malam, bahwa Abusyik sebulan menjelang meninggal dunia, hatinya sangat girang. Ia sangat bersukacita karena pabrik semen di Guha Tujoh itu telah dihentikan pembangunannya. Arman tersenyum, sambil melihat surat tanah kebun belakang rumah yang ada di tangannya. Ia teringat kembali dengan usulan Abusyik untuk kehidupannya setahun yang lalu.
Nurmahdi Nurdha, tinggal di Lhok Keutapang, Pidie. Bekerja sebagai desain grafis.