“Tapi hanya orang-orang tertentu yang bisa menembus jalan itu,” dengan wajah serius Abusyik berusaha meyakinkan Arman.
Melihat Abusyik seserius itu, Arman tidak lagi menertawakannya.
“Setahu Abusyik siapa saja yang pernah naik haji melalui gua itu?” tanya Arman penasaran.
“Hanya manusia setingkat aulia yang bisa melaluinya, jika tidak pasti akan tersesat di dalamnya,” jawab Abusyik.
Kali ini, Arman memilih sikap untuk menunjukkan bahwa ia percaya dengan apa yang disampikan Abusyik dan tidak melanjutkan pembicaraannya. Ia khawatir Abusyik akan kewalahan dalam mempertahankan argumentasinya jika ia terus bertanya. Abusyik semakin tetap dengan keyakinannya, bahwa Gua Tujuh adalah tempat keramat, pintu menuju Baitullah dan harus selalu dijaga keberadaannya.
Di kesempatan yang lain, Abusyik beberapa kali pernah menawarkan pandanganya kepada Arman. “Kalau kamu lulus nanti kamu bisa berdagang untuk menjalani hidupmu. Dengan berniaga hidup mu bisa senang. Kamu boleh jual tanah kebun yang ada di belakang rumah untuk membiayai usahamu.”
Arman hanya terdiam memikirkan usulan Abusyik untuk kehidupannya.
“Kalau hanya untuk berjualan, untuk apa aku harus sekolah tinggi-tinggi?” ujar Arman di dalam hati.
“Saya punya rencana sendiri, Abusyik,” kata Arman menanggapi tawaran Abusyik.
“Baguslah kalau kamu punya rencana. Kalau boleh aku tahu apa rencanamu?”
“Saya ingin melamar di pabrik semen yang sekarang sedang dibangun di Laweung.”
Jelas Arman dengan penuh keyakinan. “Perusahaan besar itu pasti mengutamakan putra daerah sebagai karyawan.”
Arman sangat yakin dengan rencana itu. Pada saat lulus kuliah nanti, pembangunan pabrik semen itu akan selesai dan bisa beroperasi. Saat itulah Arman akan bisa diterima dan bekerja di sana. Sebagai sarjana komunikasi, Arman yakin perusahaan pasti membutuhkan tenaga humas atau apalah namanya yang sesuai dengan keahliannya yang berhubungan dengan bidang komunikasi.
Karena rencana itulah, Arman selama ini merasa bergairah menjalankan tugas dalam menyelesaikan pendidikannya. Ia menaruh harapan besar pada obsesinya itu. Baru pada kesempatan ini ia menyampaikannya pada Abusyik, itu pun karena Abusyik duluan yang menawarkan sebuah rencana untuk dirinya. Padahal saat mendengar kabar bahwa lokasi di sekitar Gua Tujuh itu akan dibangun sebuah industri besar yang akan menyerap ribuan tenaga kerja, saat itulah Arman memulai rencananya. Setiap informasi yang menyangkut pembangunan pabrik itu selalu ia ikuti. Ia tidak mau ketinggalan informasi sedikitpun tentang tahapan perkembangan perusahaan besar itu. Mendengar rencana yang disampaikan Arman, wajah Abusyik memerah, matanya membelalak.