Berkat Doa Abusyik

“Apa? Kau mau kerja di situ?” tanya Abusyik dengan nada yang tak terkendali. “Tidakkah kau tahu perusahaan itu telah merusak tempat keramat yang mulia itu?”

Abusyik seperti kehilangan kata dalam menjelaskan ketidaksetujuannya terhadap rencana cucunya itu. “Jika mereka berhasil mengganggu Gua Tujuh, yakinlah Tuhan akan melaknat mereka!” lanjut Abusyik. “Kalau kau bekerja di sana, kau juga akan ikut terkutuk!”

Melihat reaksi dari Abusyik seperti ini, Arman jadi kaget. Ia tidak ingat bahwa Abusyik sangat fanatik dengan keyakinannya tentang Gua Tujuh. Tempat itu sangat tabu di mata Abusyik. Makanya tidak jarang dalam setiap kesempatan Abusyik selalu saja sinis jika berbicara tentang kegiatan pembangnan pabrik semen. Padahal semua teman bicaranya dengan penuh keyakinan memandang kehadiran industri itu akan berdampak baik terhadap pembangunan daerah.

Tapi Abusyik tidak. Ia sangat tidak setuju dengan pembangunan pabrik semen. Ia memandang kehadiran pabrik itu tak lebih dari sekumpulan lintah darat yang akan mengisap sumber daya alam di Pidie, untuk memperkaya kelompoknya sendiri. Sementara rakyat jelata hanya kebagian tontonan gratis, pertunjukkan keangkuhan hidup sekelompok orang yang telah memanipulasi kepentingan kelompoknya seolah akan membawa manfaat bagi kehidupan sekitar. Padahal dampak dari kehadiran pabrik tak lebih dari tumbuhnya warung kopi baru di sepanjang jalan menuju ke lokasi proyek sialan itu. Di warung itulah putra daerah melalaikan diri dan menikmati pemandangan para pekerja asing yang hilir mudik dan  tak mampu diterobos oleh putra daerah, karena setiap karyawannya direkrut di tempat yang nun jauh di sana. Setidaknya begitulah Abusyik berargumen tentang kehadiran proyek besar itu. Atas keyakinan itu, Abusyik selalu berdoa supaya Tuhan akan menyelamatkan alam yang keramat itu. Semua yang berencana menistakan tempat suci itu akan dibalikkan hatinya.

Arman merasa menyesal menyampaikan rencananya pada Abusyik. Ia betul-betul lupa bahwa Abusyik sangat membenci kehadiran pabrik itu.

Tanpa terasa kini Arman telah terlelap dalam perjalanan pulang malam bersama penumpang yang lain. Dia terbangun di saat penumpang yang pedagang itu turun satu per satu mulai dari Ulee Gle, Meureudu lalu Lueng Putu, dan Beureunun. Ia melihat setiap para pedagang itu wajahnya begitu ceria menyambut pagi yang sebentar lagi akan tiba. Saat di mana roda kehidupan akan kembali berjalan seperti biasa setiap hari.

Arsip Cerpen di Indonesia