“Daripada aku kawin lagi dengan anak perawan Pak Hamid, tentu kamu lebih tidak terima kan? Lalu apa salahnya jika aku ingin memanfaatkan hasil jerih payahku ini? Lagi pula nanti juga ujungujungnya untuk kamu sendiri. Tinggal enak saja!” gertak Najib.
“Bukan itu maksudku, Bang!”
“Lalu apa!” seru Najib. “Sudahlah kamu tidak usah ikut campur dengan urusanku ini! Apa selama ini kebutuhanmu tidak pernah aku penuhi? Lagi pula bila aku jadi anggota dewan kamu juga kan yang enak. Dasar wanita tidak tahu diuntung!” Najib kembali naik pitam saat Asih terlihat ketakutan.
Asih mengkerut. Mendadak hatinya sesak. Ia tidak menyangka lelaki yang sudah satu atap selama tujuh purnama itu mendadak serupa Sengkuni bukan seperti Arjuna yang lemah lembut pada wanita.
“Sudah, sana, jangan ganggu aku yang sedang sibuk!” Najib kembali menuntaskan amarahnya kembali.
Asih pun mengisak.
Asih lunglai. Ia berlari kecil ke kamar. Ia meratap sekaligus mematut dirinya ke dalam cermin.
“Mungkin aku yang terlalu egois! Tidak pernah membuat bahagia lelaki itu. Apalagi tujuh tahun aku belum bisa memberikan dirinya seorang anak. Mungkin dengan caranya mencalonkan diri sebagai caleg untuk penghibur dirinya?” Asih akhirnya menghentikan tangisannya.
Asih sadar diri. Ia mau tidak mau harus menerima keinginan suaminya itu. Apalagi lelaki itu terhitung amat setia padanya. Ia tidak kawin lagi lantaran menghargai dirinya. Sudah sepantasnya ia harus menerima keputusan Najib, suaminya itu.
Akhirnya Najib pun terdaftar dalam urutan caleg yang ikut dalam pemilihan perwakilan anggota dewan di kampungnya. Najib sangat senang bukan kepalang saat diketahui dirinya lolos terdaftar dalam daftar caleg. Ia sangat bersyukur. Apalagi tiga minggu lagi pesta rakyat itu akan diselenggarakan.
Najib pun lekas mengumpulkan semua sanak-saudaranya, para pekerjanya baik yang di sawah maupun dipertenakan sapi sampai anak muda di kampungnya sebagai pendukung dirinya nanti. Wondo, teman masa kecilnya, diangkat sebagai timses Najib.
Ya, Najib sangat mempercayai Wondo. Najib yakin teman masa kecilnya itu bisa merayu para warga kampung agar bisa memilih dirinya dalam pemilihan nanti.