Najib hari itu jantungnya berdegub kencang tidak menentu. Apalagi ia melihat rival dalam daftar pencalonan anggota dewan daerah itu ada orang yang sangat dikenalnya. Tidak lain adanya Kamal, di sana sebagai rival dalam bisnis peternakan di kampung. Rivalnya itu ikut pula dalam barisan sebagai caleg.
“Kenapa dia ikut-ikutan?” tanya Najib pada Asih yang saat itu mendampingi suaminya. Walaupun sebenarnya Asih enggan untuk berpura-pura tersenyum untuk meraih simpati agar suaminya terpilih. Apalagi Najib sudah mengultimatum dirinya di rumah. Selalu tersenyum pada warga setiap kali ada yang menyapa. Begitulah Asih ditekan oleh suaminya.
“Itu haknya, Bang! Siapa pun boleh ikut mencalonkan diri. Seperti Abang ini,” jawab Asih datar.
Najib yang mendengar ucapan Asih tersenyum kecut. Ingin rasanya mulut istrinya ia sumpal dengan kotoran sapi agar tidak lagi mempengaruhi dirinya pada saat itu.
Dan pesta rakyat pun berjalan sukses. Di manamana orang sudah menentukan pilihannya dengan keyakinan masing-masing. Najib yakin akan terpilih dan memenangkan sebagai caleg di dewan di daerah tempat ia tinggal.
Akhirnya usailah pemilihan itu. Tinggal menghitung suara pilihan masing-masing. Sedangkan Najib sudah ada di suatu Tempat Pemilihan Suara.
Tapi yang membuat Najib heran sejak pagi ia tidak melihat Wondo dari acara pemilihan sampai kini sudah perhitungan suara. Ke manakah keberadaan koordinator timsesnya itu?
“Kamu tahu tidak Suf, di mana keberadaan Wondo sekarang?” tanya Najib pada Yusuf, seorang pekerja di peternakan sapi yang sangat setia padanya.
“Tidak tahu, Gan! Saya kira sama juragan dari pagi,” jawab Yusuf pelan.
Najib berusaha tenang. Ia hanya fokus dalam perhitungan suara. Walaupun ia sudah menghubungi Wondo berkali-kali. Tapi tidak tanda-tanda kehidupannya. Ponselnya tidak ada jawaban apapun.
“Baiklah sekarang kita melakukan perhitungan suara…,” terdengar ucapan dari ketua panitia perhitungan suara memberitahukan jika perhitungan suara akan segera dimulai.
Najib berkesiap. Ia sudah ada di depan para ketua dan anggota perhitungan suara serta para sanksi.
Jantung Najib kini kembali berdetak. Tapi kali ini lebih kencang sekali.