Impian Najib

Toh, lagi pula Najib bisa lolos dari penyeleksian caleg pun itu dikarenakan Wondo pula yang mengurusnya. Masa masalah merayu para warga kampung agar bisa memilih dirinya tidak bisa. Pikir Najib.

Seminggu saat diketahui Najib sudah terdaftar dalam jajaran caleg yang ikut meramaikan dalam pesta rakyat untuk dapil kampung dan sekitarnya. Ia jadi sibuk. Ia tidak lagi mengurusi dan mengawasi persawahan dan peternakannya. Semua dibiarkan.

Najib berpikir masih ada pekerja yang mengurusi hal itu. Untuk apa digaji dalam sebulan. Karena ia menerapkan semua pekerjanya yang mengurusi dan mengawasi sawah dan peternakan sapi dibayar dengan sistim gaji bukan upah. Walaupun para pekerja itu mendapatkan uang makan perhari. Hmm, sebagai atasan bukankah Najib sudah berusaha mensejahterakan para pekerjanya, bukan?

Namun tidak bagi Asih. Biar bagaimana pun, Najib, suaminya itu, harus mengetahuinya. Bagaimana keadaan di sawah yang ia miliki berhektar-hektar itu. Lalu bagaimana peternakan sapi yang dimilikinya. Apakah semua baik-baik saja dalam seminggu tanpa pengawasan Najib? Itu yang Asih pikirkan! Najib harus bisa bagi waktu dalam dirinya sebagai caleg maupun sebagai atasan di sawah dan di perternakkan.

Tapi bagaimana Asih harus melakukannya? Sedangkan ia sendiri tidak ingin kejadian yang lalu membuat hatinya sesak kembali. Di mana saat Najib menghardik dirinya sebagai istri yang tidak tahu diuntung! Asih serba salah.

Akhirnya Asih sebagai badal. Pengganti Najib sebagai atasan dan sekaligus pengawas, baik di sawah maupun diperternakan sapi. Ia tidak ingin ikut mencampuri urusan suaminya menjadi caleg. Karena dari awal ia memang tidak pernah mendukung suaminya untuk ikut-ikutan berpolitik terlebih Najib bukanlah orang pandai yang pernah makan bangku sekolah tinggi. Makanya Asih sangat tidak setuju Najib mencalonkan diri sebagai anggota dewan daerah. Lebih baik jadi petani dan peternak saja, jelas hasilnya. Lagi-lagi itu yang ada dipikiran Asih.

Kini hari itu pun tiba. Hari di mana pesta rakyat diselenggarakan di penjuru Nusantara. Pagi-pagi sekali Najib sudah rapi jali. Ia memakai batik, kopiah dan pantopel agar para pemilih dan pendukungnya bisa melihat dirinya sebagai caleg yang peduli dalam pesta rakyat itu. Makanya ia bangun pagi dan sudah rapi.

Semua itu Najib lakukan sekalian melihat jalan pemilihan suara. Tidak lupa melihar secara langsung, siapa saja yang memilih dirinya.

Arsip Cerpen di Indonesia