Waktu pemilihan suara pun berjalan. Ternyata perolehan suara terbanyak diraih Kamal, sang rival bisnis peternakannya. Sangat berbeda jauh sekali dalam perolehan suaranya. Berselisih sangat jauh. Najib kurang 120 suara untuk mengungguli Kamal.
Najib yang mendengar itu langsung terkejut. Terlonjak dari bangku duduknya. Ia langsung keluar dari tempat itu dengan hati yang berkecamuk serta tidak bisa menerima kekalahannya itu. Ia langsung ke rumah. Ia mengamuk.
Tapi dalam keadaan begitu Najib teringat dengan Wondo. Ya, ke mana guru honorer satu itu dari pagi hingga malam ini tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
Namun belum sampai Najib menghubungi kembali teman masa kecilnya itu. Wondo sudah menghubunginya lebih dulu.
“Maaf aku tidak bisa menemani kamu! Aku lagi di rumah sakit. Mertuaku kecelakaan dan harus segera dioperasi. Dan uang untuk penutup suara orang-orang kampung aku pakai operasi mertuaku dulu. Nanti aku ganti. Sekali lagi maaf, Kawan…!”
Najib seketika membatu. Ia langsung kaku.
Usai itu ponsel yang Najib miliki langsung ia luluh lantakan. Dibanting. Lalu keluarlah sumpah serapah dan dibarengi tangisan air mata sebesar biji jagung yang sudah menggenangi kantong matanya. Kemudian terdengar suara terkekeh-kekeh dari mulutnya sambil memunguti daun-daun yang jatuh berserakan di teras rumahnya.
“Uangku mana…! Uangku…! Uangku mana…!”
Malam makin merintih. Asih tidak sanggup lagi meratapi Najib dalam keadaan seperti itu. Hanya yang terdengar suara jeritan Najib dicampur sumpah serapah kembali pada Wondo.
Kak Ian, mahasiswa, penulis dan aktivis dunia anak. Pendiri Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ) dan Sahabat Odi (SO). Karya-karyanya berupa cerita anak dan cerpen dimuat di berbagai media, baik cetak maupun daring. Penulis sedang menggandrungi fiksi anak-anak dan menjadi pendongeng.