Sebuah Naskah Kehidupan Seorang Penulis

Aku kembali memikirkan kehidupan ayah yang tenang di tengah padatnya deadline kantor. Tekanan yang akhir-akhir ini kuterima membuatku berpikir untuk ikut melakukan hal yang serupa dengan ayah: menjadi penulis. Tapi aku tak sekuat ayah. Keputusan menjadi penulis pernah terlintas dalam benakku. Hanya, menjadi penulis tak menjamin kemerdekaan finansial yang telah kudamba sejak masih duduk di bangku SMA. Menerima upah tiap bulan dengan jumlah yang lebih dari cukup adalah sesuatu yang menyenangkan.

Sayangnya, di saat tertekan seperti ini, aku kembali merasakan kebebasan sebagai manusia telah hilang. Bahkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga sulit untuk kurasakan, berbeda dengan ayah. Setiap saat, dia bisa menyempatkan waktu bersama keluarga. Ibu juga merasa tenang dengan sikap dan pembagian waktu yang ayah lakukan. Ayah akan menulis atau membaca di waktu anak-anaknya ke sekolah atau tertidur di malam hari. Sesekali ibu menemani ayah begadang dan mereka berdua tampak membuatku iri dengan hidup yang kujalani sekarang.

Istriku kerap terdengar mengeluhkan waktu yang bisa kuberikan untuk keluarga. Jam lembur yang beberapa bulan terakhir kuterima membuatku sulit mengatur segalanya. Urusan kantor semakin padat. Beberapa administrasi pegawai mesti kutuntaskan. Andai saja aku bisa seperti ayah, batinku. Aku juga tak lagi mampu menyempatkan diri untuk membaca, bagaimana mungkin aku mampu menulis dengan baik? Tapi, tetap saja, ada keinginan untuk mencari cara agar aku mampu hidup seperti ayah.

Sebelum meninggal, ayah berpesan kepadaku agar menulis sebuah cerita tentang dirinya, atau jika memungkinkan, dia ingin aku menuliskan sebuah biografi untuknya.

“Seorang anak menulis untuk ayahnya yang telah meninggal, itu akan membuatku tersenyum di surga!” pesannya sebelum penyakit yang melandanya juga ikut menghapus kemampuan bicaranya. Tapi, setelah bertahun-tahun lamanya, aku bahkan tak menulis selembar pun. Aku tak tahu lagi apa yang akan ayah pikirkan tentang diriku.

“Dasar anak durhaka,” aku terus mengutuk diri sendiri.

***

Dia benar-benar berhasil menjalankan rencananya. Naskah itu benar-benar telah disimpan di suatu tempat yang tak seorang pun akan membacanya. Dia juga telah mengetahui siapa yang menuliskan naskah itu. Namun hari ini dia berniat memberikan naskah itu kepada seseorang. Anak dari pemilik cerita itu.

Arsip Cerpen di Indonesia