Setelah memutuskan keluar dari perusahaan, hidupnya mulai terlunta-lunta, tabungannya pun mulai habis. Tapi keputusannya menjadi penulis benar-benar kuat. Istrinya tak lagi mengeluh perkara waktu bersama keluarga, melainkan masalah ekonomi telah menjadi persoalan utama. Beruntungnya, dia belajar banyak dari ayahnya. Menjadi penulis bukan sesuatu yang mudah.
Dia kembali menjalankan rencana. Dengan kemungkinan berhasil yang menjanjikan. Berkat naskah yang ada di tangannya itu, dia pun menjadi seorang penulis yang dia dambakan sejak dulu. Dari naskah itu, dia belajar menjadi seorang penulis, yang sepenuhnya penulis. Dia kembali terkenang, saat pertama kali dia menemukan naskah itu di sebuah laci dekat ranjang tempat tidur penulis idolanya. Setelah membaca beberapa kali hingga tamat, dia mulai menyadari bahwa naskah itu ditulis oleh dua orang yang berbeda. Dia meyakini bagian awal dari cerita itu ditulis langsung oleh almarhum, tapi di bagian akhir, gaya menulis itu jelas berbeda.
***
Ayahku seorang penulis. Beberapa buku bacaannya telah kubaca dan beberapa buku kuulang karena ada keseruan tertentu yang kudapatkan saat membaca. Sebulan sebelum ayah meninggal, aku tahu dia tengah menulis biografinya sendiri.
“Untuk para penulis yang berjuang menjadi rencananya,” kalimat ini ditulis di halaman awal untuk dipersembahkan kepada siapa pun yang ingin berjuang menjadi penulis. Naskah yang cukup tebal itu diketik menggunakan mesin tik milik ayah. Saat ayah tak lagi mampu menulis dan dirawat di rumah sakit, diam-diam aku masuk ke dalam kamarnya dan melanjutkan apa yang telah dia tulis. Sehari sebelum ayah mengembuskan napasnya yang terakhir, naskah itu selesai dan ingin kuhadiahkan kepadanya. Tapi niat itu gagal lantaran aku mesti sibuk dengan urusan kantor yang tiba-tiba. Aku ingin menundanya sehari atau dua hari sembari menunggu kondisi ayah menjadi lebih baik. Sialnya, ayah tak sempat melihat naskahnya yang utuh.
Beberapa hari setelah dimakamkan, aku tahu bahwa paman-adik dari ayah-yang juga ingin menjadi penulis mengambil naskah itu secara diam-diam. Aku secara tak sengaja melihat dia memasukkan naskah itu ke dalam tas hitamnya. Dan setelah itu aku tak lagi peduli pada naskah yang dicuri itu, tapi kemarin paman datang berkunjung. Naskah ayah itu dia berikan kepadaku, dan aku pura-pura tak tahu dengan semua ini. Saat memberikan naskah itu, paman berpesan bahwa “Tak semua rencana berjalan mulus, kau harus baca naskahku ini! Naskah yang kutulis tentang ayahmu dan kemungkinan akan diterbitkan penerbit ayahmu!”