Perempuan yang Meninggalkan Lipstik di Gelas

“Tapi aku jijik melihat lisptik itu,” ujar saya ketika Faiz, laki-laki sebaya saya itu, berlalu.

Faiz tidak menyahut kecuali hanya melempar senyum.

Di hari ketiga dia muncul lagi. Kali ini saya khusus memperhatikannya ketika dia memasuki kafe. Setelah dia duduk di kursi paling ujung, saya menghampirinya. Menanyakan pesanannya.

“Ini aja, nasi lele dan minumnya seperti biasa, juice,” ujarnya lembut sebelum saya membuka mulut.

Saya menganggukkan kepala sambil tersenyum lalu meninggalkannya.

Saya kemudian memberitahukan kepada Lena, rekan satu kerja saya yang bertugas membuat hidangan, pesanan perempuan itu. Dari jauh, di balik tiang-tiang kafe saya mulai memperhatikannya kembali. Memperhatkan wajahnya. Gerak-geriknya. Tiba-tiba saya merasa  bagai seorang detektif mengawasi seseorang yang dicurigai. Saya mulai memperhatikan wajahnya.Wajah itu cantik. Rambutnya hitam sebahu. Dia memakai baju kaos berwarna putih ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang memancing hasrat laki-laki. Melihat itu saya sedikit terbius. Mata saya terus memperhatikannya.

Saya bisa terbakar, saya membatin.

Saat itu suasana kafe agak ramai. Penuh dengan tawa anak muda yang berpasang-pasangan. Ada yang mahasiswa. Pekerja.  Dari pelantang suara terdengar lagu Demi Waktu.

Saya perhatikan perempuan itu mengeluarkan telpon genggam. Dia entah dihubungi oleh siapa. Dia tersenyum. Senyum itu indah. Ah, tiba-tiba saya membayangkan yang bukan-bukan. Saya tambah terbakar memandangi lekuk tubuhnya.

“Hallo Abang, apa kabar.”

“….”

“Ha ha ha, ketagihannya?”

“…”

“Siang-siang begini?”

“…”

“Kalau begitu habis makan ya. Ini lagi di kafe.”

“….”

“Hotel itu lagi? Jangan ah. Yang lain.”

“…”

“Ya. Sampai jumpa.”

“…”

Arsip Cerpen di Indonesia