Kami perhatikan perempuan itu meninggalkan tempat duduknya. Ketika dia berjalan, lekuk tubuhnya semakin menonjol. Dia memakai celana jeans ketat. Kami semakin terbius. Dia kemudian berhenti di bagian pembayaran. Dia mengeluarkan dompetnya. Membayarnya. Setelah itu dia keluar dari kafe.
“Ayo, kita lihat,” kata Faiz.
Bergegas kami ke meja perempuan tadi. Ternyata Faiz lebih dulu berada di sana. Ia memegang gelas bekas juice itu.
“Kamu kalah, kawan,” katanya.
Saya terpana memandangi gelas yang dipegang Faiz. Sebab gelas itu tidak ada bekas bibir dengan lipstik perempuan yang meninggalkan kafe tadi.
“Sialan,” umpat saya.
Faiz tersenyum meninggalkan saya. Dia bergegas mengambil uang taruhan kami tadi. Saya mengutuk diri. Tebakan saya salah. Saya bertanya dalam hati mengapa dia tidak bersikap seperti dua hari yang lalu?
Tapi ketika saya mengangkat piring bekas makanan perempuan itu. Saya sedikit kaget. Di bawah piring itu saya menemukan sehelai tissu putih dengan sebuah kalimat singkat. Saya tidak tahu kalimat itu ditujukan kepada siapa. Bunyinya: KENAPA KAMU TIDAK MENGERTI MAKSUD SAYA?
Saya meremas tisu itu hingga membulat dan melemparkannya ke keranjang sampah. Dari jauh saya lihat Faiz masih tersenyum. Senyumnya sungguh menampar hati saya.
Jakarta-Banda Aceh, 2019
Farizal Sikumbang lahir di Padang. Guru SMA 2 Seulimeum, Aceh Besar. Buku kumpulan cerpennya adalah Kupu-Kupu Orang Mati (Basabasi, 2017). Dua buku novelnya yang akan segera terbit: Osi Si Gadis Sunyi (Penerbit Meca, Sumsel, 2019) dan Perempuan dalam Prahara (Phonex Publisher, Jogyakarta, 2019).