“Tapi kau suka kan?”
“Aku laki-laki normal.”
Faiz tertawa.
Saya juga tertawa.
“Jadi, kau tetap yakin perempuan itu akan kembali meninggalkan lipstik di bibirnya di gelas itu?”
“Ya, aku yakin.”
“Bagaimana kalau kita taruhan.”
“Taruhan?”
“Ya.”
“Berapa?”
“Lima puluh ribu.”
“Lima puluh ribu?”
“Ya.”
“Tidak. Seratus ribu?”
“Seratus ribu? Oke.”
Saya kemudian mengeluarkan uang seratus ribu dari dompet saya. Faiz juga. Uang itu kami letakkan di bawah gelas. Di balik tiang kafe kami berdua kini memperhatikan perempuan itu. Memperhatikan perempuan itu menyantap makanannya. Sesekali Faiz tersenyum kepada saya. Mungkin dia juga merasakan getaran seperti saya. Terbakar oleh lekuk-tubuh perempuan itu. Sedangkan waktu terus berputar.
Beberapa saat kemudian kami melihat perempuan itu telah menghabiskan makanannya, juga juice alpokatnya. Kami yakin tidak lama lagi dia akan meninggalkan kafe.
“Aku pasti akan menang,” ujar Faiz.
“Kenapa?”
“Dari tadi aku tidak melihat dia melekatkan gelas itu ke bibirnya.”
“Tapi mata kita sering luput dari dia karena terhalang oleh tamu lain kan? jadi alasanmu tidak kuat.”
“Ya sih.”
“Malah aku yakin perempuan itu akan meninggalkan lipstik bibirnya di gelas itu. kau tahu, tadi bibirnya merah sekali. Uangmu akan jatuh ke tanganku seratus rribu, Kawan,” ujar saya sambil menepuk bahu laki-laki asal Mentawai itu.
“Lihat! Perempuan itu beranjak,” sapa Faiz.
“Ya.”