Suatu ketika, ketika malam sedang diliputi kegelapan penuh karena cahaya bulan tertutup mendung. Ada segerombolan penyusup yang masuk ke area pondok. Tak seorang pun yang mengetahuinya karena pada saat itu para santri sudah banyak yang pulang karena bertepatan dengan libur hari raya. Suasana pesantren lenggang. Para penyusup berpakaian serba hitam yang berjumlah lima orang itu menjadi sangat mudah menjangkau rumah tempat tinggal Kiai Mus.
Namun sebuah keanehan terjadi. Langkah gerombolan pembunuh itu tercekat ketika melewati pintu pagar ndalem. Mereka mendadak tidak bisa bergerak. Berdiri mematung di halaman rumah. Jangankan melangkah, berbicara pun para penyusup itu tidak mampu. Hanya mata liar mereka yang masih bisa berkedip-kedip penuh kecemasan. Keberanian mereka lenyap seketika. Dan yang membuat mereka dicekam ketakutan adalah karena ada seorang berbadan tegap tinggi besar yang menghampiri dengan rambut panjang terurai, yang anehnya, juntaian rambut itu menyerupai kobaran api yang menjilat-jilat ganas. Hal itulah yang menelan keberanian dan kebengisan para gerombolan penyusup dan membuatnya tergeletak tanpa daya bagai tubuh tak bertulang.
Para penyusup itu tidak bisa beranjak dari tempatnya sampai bunyi kokok ayam jantan bersahutan. Paginya, betapa kaget Kiai Mus dan keluarga ndalem lainnya ketika melihat lima orang berpakaian seperti ninja itu tergeletak di halaman. Sementara Gus Sabri, adik Kiai Mus terlihat masih nyenyak tidur di sofa teras rumah. Akhirnya para penyusup dilaporkan ke pihak yang berwajib. Maka selamatlah keluarga ndalem dari ancaman pembunuhan.
Tidak hanya itu saja cerita tentang kelebihan Gus Sabri. Beliau juga dikenal sebagai orang yang waskita. Dalam istilah Jawa disebut weruh sakdurunge winarah, bisa mengetahui hal-hal yang bersifat ghaib yang belum terjadi. Seperti yang dituturkan oleh salah satu abdi ndalem pesantren, Kang Parmin. Ketika itu Kang Parmin sedang bekerja membantu Kiai Mus mengurus sawah milik pesantren. Ketika sedang sibuk mencangkul, lewatlah Gus Sabri di depannya. Dengan nada yang santai, tanpa ada referensi pembicaraan sebelumnya, tiba-tiba Gus Sabri menyuruh Kang Parmin pulang ke rumahnya.
“Min, besok pulang min!” seloroh Gus Sabri.
“Lho, wonten nopo, Gus?” Jawab kang Parmin setengah keheranan.
“Sudah, kamu pulang saja besok. Ndak kangen sama bapakmu ta, Min?” terang Gus Sabri sambil berlalu dari Kang Parmin.