Sirri Gus Sabri

Biasanya, pada saat seperti ini, putra putri dari Kiai Ridwan Sholeh akan hadir semua. Putra sulung Kiai Ridwan, yaitu Kiai Ahmad sudah datang tadi pagi. Beliau menjadi pengasuh di salah satu pesantren yang berada di pesisir daerah Jawa Tengah. Sedangkan Ibu Nyai Nuriyah bahkan sudah datang dari kemarin bersama suaminya, Kiai Basyuni yang mengasuh pesantren di daerah Madura. Putra ketiga Kyai Ridwan adalah Kiai Mustofa yang mewarisi pesantren Pringkuning peninggalan ayahandanya.

Acara haul sudah dimulai sekitar jam delapan malam. Namun ada yang kurang. Bukan karena jumlah hadirin yang sedikit. Bukan. Bahkan panitia kewalahan menyediakan akomodasi untuk tamu undangan yang membludak. Kang Parmin sebagai penanggung jawab acara pun merasakan ada yang belum lengkap. Iya. Gus Sabri. Seorang yang fenomenal ini tidak terlihat sama sekali di acara.

Tengah malam, acara barulah purna. Selepas acara, nampaknya sesuai perkiraan Kang Parmin. Ia mendapat perintah langsung dari Kiai Mustofa untuk mencari keberadaan Gus Sabri. Tengah malam itu juga Kang Parmin segera melaksanakan dawuh untuk mencari Gus Sabri. Hampir di tiap sudut pondok sudah diperiksanya. Di gubuk sawah tempat yang biasanya dipakai Gus Sabri mujahadah malam juga kosong tidak berpenghuni. Kang Parmin mencari Gus Sabri hingga ke perkampungan warga. Hasilnya juga nihil. Kang Parmin nyaris putus asa.

Malam terus beranjak. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Kang Parmin masih bertahan di jalanan. Tiba-tiba ia seperti mendapat ilham. Nalurinya menuntun Kang Parmin pada pesarean keluarga ndalem Kiai Ridwan berada di sebelah utara pos jaga keamanan pesantren. Biasanya Gus Sabri selain bermalam di gubuk persawahan, beliau juga sering berada di pesarean. Tanpa berpikir panjang, Kang Parmin segera meluncur ke tempat yang ia perkirakan tersebut.

Area pesarean tampak sepi. Hanya suara gemerisik serangga malam yang bersahutan memecah keheningan. Cahaya bulan sempurna bersinar. Sorotnya menembus hingga ke sebuah cungkup makam. Kang Parmin tertegun melihat seseorang tersedu di sana. Dialah Gus Sabri. Beliau berpakaian serba putih dan tidak nampak seperti biasanya. Gus Sabri terlihat sedang duduk bertafakur di depan pesarean almarhum Kiai Ridwan. Kang Parmin belum berani memanggil. Ia hanya berdiri di belakang Gus Sabri dengan menyimpan serentetan pertanyaan. Namun seperti sudah mengetahui siapa yang dating, Gus Sabri menyapa Kang parmin.

“Min, kamu nanti bilang sama Kiai Mus. Saya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikawatirkan.”

“Engge, Gus,” Kang Parmin menyahut singkat.

Arsip Cerpen di Indonesia