“Kamu tahu, Min, mengapa aku tidak bisa ikut menghadiri acara haul di pesantren?” Gus Sabri seperti sudah tahu apa yang menjadi pertanyaan Kang Parmin.
“Mboten semerap, Gus,” jawab Kang Parmin singkat.
“Karena tamu-tamu dari kota besar itu lho, Min. Yang duduk di barisan depan, berjas dan berdasi,” terang Gus Sabri.
“Oh…Mereka para donatur, Gus. Orang penting dari kota besar katanya. Ada apa dengan mereka, Gus?” tanya Kang Parmin.
“Awalnya aku berniat hadir pada acara tadi malam, Min. Namun aku urungkan. Kamu tahu, Min? Aku melihat hampir semua tamu itu, meskipun tidak semuanya, yang katamu tadi orang penting itu, semua berkepala anjing. Menyeringai dengan liur yang berseleweran menetes dari mulut mereka. Seketika juga, aku pergi menjauh, Min. Tak sudi aku berada bersama orang-orang seperti itu.” Gus Sabri nampak serius bercerita.
Kang parmin tercengang mendengar cerita Gus Sabri. Ia jadi teringat, di salah satu media memberitakan ihwal tentang kasus-kasus yang menyerempet para kaum elit tersebut. Namun ujung-ujungnya ketika diproses, mereka masih bisa lolos dari jerat hukum. Kang Parmin percaya bahwa penglihatan Gus Sabri benar adanya. Memang di dunia ini ada hal lain yang tidak bisa dinalar, termasuk kelebihan yang dimiliki Gus Sabri.
“Sudah, Min. Bilang sama Kiai Mus. Untuk sementara ini aku akan pergi. Ke mana kakiku akan melangkah, biarlah mengikuti kata hati. Nanti jika pesantren kembali bercahaya. Aku akan kembali,” ucap Gus Sabri.
Kang Parmin mengangguk dan hanya bisa diam. Sebuah pelajaran amat berharga ia dapatkan. Setelah pamit undur diri, Kang Parmin segera kembali ke pesantren. Dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia memutuskan akan memberanikan diri menyampaikan cerita dari Gus Sabri pada Kiai Mus. Kang Parmin yakin, Kiai akan dengan sangat arif menanggapi permasalahan ini. Dari kejadian ini, Allah telah membuka setitik rahasia yang tersembunyi pada orang-orang yang berhati putih seperti Gus Sabri. Seorang yang punya tingkat keikhlasan dan ketawadhuan yang benar-benar murni. Kelebihan yang beliau miliki sejatinya adalah titipan-Nya. Menjadi sebuah karunia atau ujian? Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Sampai cerita ini ditulis, Gus Sabri belum pernah sekalipun tampak kembali ke pesantren. Lalu, di manakah beliau berada? Wallahu a’lam bisshowab.
Gresik, Agustus 2019
Jadid Al Farisy lahir di desa Kendal kecamatan Sekaran pada tahun Sabda Pujangga Kusumaning Bumi. Saat ini masih aktif sebagai pendidik di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan dan MIMA NU Kendal Sekaran. Karyanya berupa cerpen dan puisinya bisa dijumpai dalam antologi bersama Literacy Institute Bocah Luar Pagar, Ini Hari Masjid Tumbuh di Kepala, Hikayat Daun yang Jatuh. Selain itu karyanya juga terantologikan dalam Muhasabah Warna, sebuah antologi puisi bersama Lesbumi PC NU Babat. Sedangkan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Kopi Kang Santri. Aktif dalam komunitas penggiat literasi Lamongan (Literacy Institute of Lamongan).