Surat yang Tak Terbalas

Aku diajak untuk menghadiri pemakaman orang tua dari pacar sahabatku. Katanya aku harus hadir, karena dia tak suka berada di pemakaman. Aku hadir dan berakhir duduk diam di belakang sepanjang acara. Aku semula tidak menahu, pacar dari sahabatku ternyata wanita yang pernah menjamah lereng paling landai di hati.

Waktu kau menjabat tanganku, tersenyum dengan mata merah berair, berbalik dan menunjukkan simpul rambut yang masih sama, lantas aku mematung.

Aku tidak memikirkan bagaimana kau baru saja ditinggal oleh satu-satunya orang tuamu. Aku tidak memikirkan sahabat karib yang hampir seperti keluarga bagiku. Aku cuma memikirkan satu hal. Kenangan yang begitu lama terbenam, pecahan-pecahan kaca yang membuat wajah berkilauan. Aku akui hal itu tanpa penyesalan.

Aku memilah kenangan lalu ragu. Setelah aku dapati ternyata kau tinggal dekat gereja tempatku dulu selalu berdoa, lantas aku yakin. Bertahun-tahun telah berlalu. Masih di kota yang sama. Aneh rasanya aku bertemu denganmu di duka sebagai sahabat pacarmu.

Aku beberapa malam tidak bisa tidur. Aku belum pernah memikirkan wanita lain seperti itu. Beberapa kali aku mengenal wanita, tapi tak pernah kegelisahan seperti ini aku temui saat bersama mereka.

Beberapa pekan kemudian aku mendapat kabar dari sahabatku kalian berpisah. Katanya kau berubah. Aku yakin semua orang pasti berubah ketika kematian merasuk ke hati dan pikiran. Itu biasa.

Manusia kerap memikirkan kehidupan, sehingga mereka bisa tertawa terbahak. Begitu kematian berada di setiap kedipan mata, manusia tak bisa tertawa, tak jua menangis. Mereka akan menatap nanar. Serupa bunga yang kembang indah di cerah hari, tetap kembang namun tak indah di malam hari. Mahkotanya mudah rontok, gerimis dengan mudah menyapunya dari tanah. Aku mengerti karena kedua orang tuaku juga telah pergi jauh-jauh waktu.

Aku ingin sekali bertemu denganmu, tapi mungkin surat ini alasan yang baik untuk menolak ajakanku. Begitu juga denganku, surat ini alasan agar tidak perlu bertemu denganmu.

Biarkan aku bertanya dan jawablah di dalam hatimu saja. Apa yang terjadi padamu pada hari-hari itu? Aku tahu di mana kau bekerja. Aku tahu jalan mana yang akan kau pilih menuju rumah. Mungkin terdengar menjijikkan, tapi begitulah perasaan kadang bisa mendorong seseorang berbuat yang menjijikkan.

Aku tidak lagi melihat senyum itu. Senyum yang boleh menghilangkan awan-awan di angkasa. Aku malah menemukan senyum yang berbeda. Kau selalu menikmati kopi di kafe depan kantor.

Arsip Cerpen di Indonesia