Lantas suatu hari aku berjalan ke arahmu. Duduk berhadapan denganmu, memicingkan mata dengan tanda tanya yang begitu besar. Kau terkejut. Barangkali aku mengingatkanmu pada mantan pacarmu, sahabatku.
Aku bertanya perihal kabar, pekerjaan dan semacamnya. Aku tak berani mengungkapkan bagaimana dirimu membuatku jijik sekarang ini. Aku terkejut ketika mendapatkan senyum yang sama. Senyum hangat dan mata yang penuh kelembutan. Seolah kau berubah di hadapanku. Kakiku gemetar, dada berdebar. Sepanjang percakapan aku hanya nanar memperhatikan panorama yang selalu aku rindukan.
Kita berpisah, aku mendapat nomor teleponmu. Di rumah, malamku berlangsung begitu panjang. Aku memikirkan segalanya tentang pertemuan kita. Bagaimana kau mengikat rambut di hadapanku dengan kikuk. Mengaduk segelas kopi tanpa gula dan bagaimana matamu selalu menatap tepat ke mataku.
Oh, aku keliru. Aku keliru! Kau sama sekali tidak berubah. Kau hanya berlaku berbeda-beda di dunia yang selalu sama. Tidak seperti sebelumnya.
Aku selalu ingin dengar suaramu dari telepon. Cukup menekan tombol, maka aku bisa mendengarnya, tapi aku tidak bisa. Tak tahu mengapa. Aku bisa cuma berangan-angan perihal kegiatanmu hari ini. Apakah kau masih berpergian dengan pria-pria yang tak kau kenal? Atau barangkali sedang mabuk di kamarmu? Aku ingin mendatangimu lagi, berakting seolah-olah kebetulan lewat dan melihatmu dari balik etalase. Tidak bisa. Ada yang menahan diriku untuk tidak melakukan itu.
Sekarang, mungkin kau sudah lupa denganku. Jejakmu masih tersisa di hati. Kau tidak pernah lagi datang ke kafe. Tidak juga bekerja di tempat yang sama lagi. Semua terjadi begitu cepat.
Kemarin sore, sahabatku sekaligus mantanmu, berbincang denganku perihal dirimu. Katanya kau sudah pergi. Aku tidak percaya. Aku langsung menuliskan surat ini. Aku kirimkan ke alamat yang masih terbingkai di kepala. Aku tidak berharap balasan. Aku hanya ingin kau tahu dan aku juga tahu. ***