Surat yang Tak Terbalas

Pada mulanya aku melihat senyum yang aku selalu impikan. Kian hari kian hilang pendarnya. Suatu sore, aku melihatmu tidak tersenyum pada penyaji makanan. Kau justru menghela nafas, meringis seperti kucing yang marah karena dia lupa memberimu sendok.

Lain hari juga, aku melihatmu memangku wajah dengan tanganmu, menatap kosong dari balik etalase. Tidak seperti biasanya.

Biasanya kau tampil memesona dengan blazer dongker yang melekat ke kulit. Rambut tersimpul rapi, simpul yang mengenang di hatiku. Kau akan menegakkan punggungmu, berbicara dengan dagu tidak terangkat, tapi tegak dan santun pada siapa saja yang berbicara padamu. Beberapa hari ini, aku melihatmu melepas semuanya.

Wajahmu kusut, kau berbicara dengan menaikkan salah satu sudut bibir seolah semua yang dikatakan orang mengundang amarah dalam hatimu. Punggung bungkuk, bibir yang mengatup rendah, menatap ke luar etalase sambil beberapa kali mendecakkan lidah. Aku tidak tahan melihatmu seperti itu.

Di hari yang lain, aku mendapati dirimu berjalan dengan seorang pria. Kalian pasti baru kenal karena ada ritme yang berbeda dari langkah kaki kalian. Pria tinggi berkaca mata hitam dengan jaket kulit. Kau bertanya padanya, dia menjawab dengan antusias. Dia bertanya, kau menjawab tak acuh.

Aku juga takjub melihatmu tersenyum padanya. Rasa takjub yang berbeda. Barangkali karena senyuman itu juga berbeda. Aku melihat ada paksaan di sana. Ada semacam kerutan yang berbeda dari senyuman yang kau berikan padaku. Kau ingin memaki pria itu waktu dia menangkap tanganmu dan mengalungkan jemarinya. Aku melihat itu di bola matamu.

Mengapa kau hanya tersenyum? Mengapa kau terima hal itu begitu saja? Aku bukan seorang wanita, tapi aku tahu seorang wanita tidak suka bersentuhan dengan pria yang barangkali baru dikenalnya.

Sejak hari itu, kau selalu berganti-ganti pria. Ada yang tinggi, ada yang dengan mobil mewah menjemputmu tepat di depan kafe. Macam-macam. Kau juga mulai merokok seperti wanita tua yang menanti ajal.

Terkadang, di suatu sore kau bahkan memesan sebotol bir. Oh, aku tak tahan melihat. Jujur aku merasa sedikit jijik denganmu. Jijik dengan tingkahmu yang berubah. Jijik dengan semua pria yang kau bawa ke sana ke mari. Apa yang telah dunia perbuat padamu sampai begitu parah kau berubah?

Kematian orang tua? Aku rasa tidak. Aku sudah merasakannya dan aku masih tetap seperti diriku. Bagiku, benar adanya bahwa segala yang terjadi di dunia pada seseorang tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang telah pergi. Orang-orang mati tidak bisa mengubah kita yang hidup.

Arsip Cerpen di Indonesia