Teo Berubah Jadi Bebek

“Deras sekali hujannya,” ucapku.

Dia tak menanggapi. Bunyi jatuhnya air demikian keras, hingga wajar bila dia tak mendengar. Aku perhatikan sekitar dan mengira- ngira untuk apa bangunan ini didirikan. Kecuali atap, seluruh bagian bangunan terbuat dari kayu. Ada lima tiang dan beberapa palang, menopang asbes yang disusun sebagai atap. Tak ada tanda apa-apa selain itu. Di tiang-tiang kayu memang ada gurat tulisan, macam-macam isinya, tapi yang dominan nama-nama orang, juga sketsa jantung tertancap panah.

Si lelaki tua menoleh padaku dan berkata, “Nak, saya mau minta sedikit bantuanmu.”

Lelaki ini lebih tua dari ayahku. Kukira dia lebih pantas menjadi kakekku. Tampaknya dia suka mengunyah sirih, mulutnya merah dan tiba-tiba kubayangkan dia seperti vampir yang suka mengisap darah. Tapi segera aku berseru, “Apa yang bisa saya bantu?”

Dia mengeluarkan bungkusan dari gulungan sarung. Dari bungkusan itu dia keluarkan tembakau, korek kayu, dan sebatang lilin yang tinggal setengah. Setelah memisahkan lilin dan korek, dia masukkan lagi tembakau ke dalam gulungan sarung. “Saya harus segera sampai rumah. Tapi seperti bisa dilihat, hujan kelihatannya masih akan lama. Saya mau menyalakan lilin, bisakah anak bantu saya menjaga nyalanya?”

Aku bingung. Kusangka kakek itu pasti sudah linglung. Tapi tanpa menunggu jawaban, dia minta aku memegang lilin.

“Lindungi dengan tangan. Hujan memang deras, tapi kelihatannya angin tak begitu keras,” katanya.

Setelah aku bersiap-siap, dia segera menggesek batang korek. Api menyala sebentar, lalu padam. Berkali-kali dia mencoba, tapi sia-sia. Aku merapat lebih ke dalam, bersandar ke tiang tengah. Di belakangku sebatang pohon menjulang. Angin takkan menjangkau dari belakang, dan aku bisa melindungi nyala api lebih gampang.

Akhirnya api menyala, pindah dari korek ke sumbu lilin. Si kakek lega, dia usapkan kedua tangan ke kain sarung.

“Nak, sebenarnya saya jarang melakukan ini. Hanya saat-saat terpaksa saja. Saya tak bisa melakukan sendiri. Karena anak sudah membantu, nanti saya beri imbalan. Sekarang, tolong jaga nyala lilin ini sampai lilinnya hilang.”

Arsip Cerpen di Indonesia