Aku tak tahu mesti berkata apa. Tugas menjaga nyala lilin serasa tugas menjaga seluruh semesta. Perasaan tegang menjalar di badan. Lelaki tua itu memejamkan mata, komat-kamit, lalu dengan begitu saja tubuhnya lenyap. Aku terkesiap. Di depanku sekarang berdiri seekor burung. Tak pernah kulihat burung seperti itu. Wujudnya sebesar kalkun, tapi seluruh bulunya hitam pekat. Kakinya panjang dengan selaput lembut dan kelihatan gampang robek sebagaimana selaput di kaki bebek. Burung itu menjulurkan kepala, paruhnya tampak terus-terusan meludahkan cairan merah. Burung itu melihat padaku dan mendengking serupa anjing. Seperti diingatkan, kulindungi nyala lilin dengan lebih hati-hati. Burung itu mengambil ancang-ancang, lalu sayapnya mengepak dan tubuhnya pelanpelan terangkat ke udara. Begitu sampai di ketinggian tertentu, burung itu langsung melesat seperti pesawat. Aku masih tak bisa berpikir jernih, daya tangkapku kacau seakan-akan terpuruk dalam mimpi buruk. Sampai tak kusadari lilin di tanganku sudah lenyap berganti segulung sobekan kain kumal dan lembap.
Kubuka gulungan kain. Ada lima baris tulisan di atasnya. Kubaca baris per baris dan setiap selesai baris-baris itu langsung terhapus. Tanpa bermaksud menghafal, tulisan itu menyumpal pikiran dan tak bisa hilang seolah bakal kekal.
Berpekan-pekan setelah peristiwa itu, mantra kakek tua terus terngiang-ngiang di telinga. Seperti ada desakan mencoba. Makin lama kupikir kian kuat desakan itu. Tapi tak ada situasi bisa memaksa. Sampai aku bertemu Teo.
Teo teman masa kecilku. Kami tumbuh bersama, meski nasib kami berbeda. Sudah lama kami tak bersua, semenjak Teo pergi ke lain provinsi untuk bekerja di perusahaan tambang. Beberapa waktu lalu Teo kembali membawa persoalan: ia melarikan diri, meninggalkan tumpukan utang. Tentu aku tak bisa mengatasi persoalannya. Seperti kubilang, nasib kami berbeda; ia pernah jadi orang kaya, aku masih sama saja sejak remaja. Kenyataan itu membuatku sedikit membenci Teo. Maksudku, seharusnya kami tetap bersama, sama-sama susah dan sebaliknya sama-sama senang. Pernah perasaan terkhianati muncul dalam hatiku ketika Teo hendak pergi ke lain provinsi.
Pada masa kecil kami tergolong bocah nakal yang acap berbuat kriminal. Mencuri dagangan orang di pasar, menggedor pintu rumah di pinggir jalan, curang ketika bermain dengan kawankawan, main domino dengan uang hasil curian, sering bolos sekolah dan melakukan hal-hal yang membuat guru marah. Itu kenakalankenakalan kecil yang ketika kami beranjak dewasa menguap begitu saja. Namun pertemuan dengan Teo seperti membangkitkan lagi kenangan-kenangan itu. Ketika Teo menghadapi masalah dan sebagai teman aku mesti membantu, mantra kakek tua seperti menemukan waktu untuk bekerja.