Kami memilih rumah kosong ini, bukan hanya karena aku sering kumpul di sini bersama teman-temanku; minum-minum, mengisap lintingan ganja, atau merencanakan beberapa kejahatan. Namun juga lantaran tempat ini jarang disambangi orang lain. Rumah ini dianggap angker. Orang sering melihat macammacam penampakan. Juga suara-suara aneh. Paling sering suara-suara binatang yang tidak mungkin ada di sekitar sini; harimau, gajah, atau suara yang diduga berasal dari binatang yang tak diketahui namanya. Namun aku dan temantemanku tak pernah melihat atau mendengar apa pun. Kami, tentu saja, tak menceritakan itu pada orang-orang. Kadang malah kami mengaku melihat hal-hal mengerikan di rumah ini, supaya mereka makin yakin dan kami bisa bebas menggunakan rumah ini sebagai tempat berkumpul.
Di rumah ini, setelah membaca mantra, Teo berubah jadi bebek.
Aku tak tahu kenapa bisa begitu. Kukira ia akan berubah jadi sosok tak terlihat, hingga bisa mudah masuk ke rumah siapa saja untuk mengambil uang mereka, seperti yang dia inginkan. Angin yang tadi membuat pintu dan jendela berderak-derak, kini berkurang. Hujan turun, tidak begitu lebat, dan kudengar di luar langkah-langkah orang berlari mendekat. Teo yang sudah jadi bebek berkwek-kwek.
Aku bimbang. Kalau lilin kupadamkan, Teo akan selamanya terjebak dalam wujud bebek. Pintu digedor. Seseorang memanggil namaku, disusul seseorang yang lain. Itu teman-teman yang sering mabuk bersamaku. Karena tak ada jawaban, salah satu di antara mereka berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ruang tempat aku dan Teo berada. Kulihat wajahnya menempel di kaca, menengok ke dalam. Tiba-tiba listrik menyala. Teman di luar melihat seekor bebek dalam ruang yang terang benderang. Dengan girang, seraya menggedor-gedor kaca, ia berkata, “Waaah, makan bebek panggang kita. Ini aku sudah bawa banyak minuman!”
Teo tampak panik. Sepertinya ia mendengar kata-kata temanku itu. Dalam keadaan begini, ide itu malah terdengar cemerlang. Memang sudah lama aku tidak makan bebek panggang. (28)
Kekalik, 17 April 2019
Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni Tempo 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018)