Boston: Ketika Ponsel Berdering

Bung Yap berasal dari Solo dan bekerja di Boston sebagai juru warta majalah bulanan. Bung Jun asli dari Jakarta, studi lanjutnya membuat ia lebih tua sepuluh tahun dari saya. Padahal saya lebih dulu lulus sekolah. Dua tahun kemudian barulah ia menyusul. Sepintas saya tebar pandang, keduanya bercakap-cakap dengan nada rendah. Saya sulit mendengarnya. Suara mereka seperti sepoi angin, kadang terdengar seperti arus listrik yang macet di sebuah gardu stasiun.

Tiba-tiba saja rasa mual tak tertahankan menyodok ulu hati. Saya coba julurkan lengan, meniti dinding, menggapai-gapai sisi tembok, tapi rupanya percuma. Saya terkapar seketika dengan bahu kiri mendarat lebih dulu ke lantai. Bunyi debamnya seperti bedug dipukul lonjoran kayu. Saya terkapar lemas, wangi Vodka dan cairan putih menyembur dari mulut, sejurus rasa terbakar di tenggorokan. Ingus pejal meleleh, mata saya berkunang-kunang.

Rasa ngilu yang mengorek telinga ternyata berasal dari ranting poplar. Ranting-ranting itu ditimpa angin dan menggaruk jendela kamar, memaksa kedua mata saya terbuka. Sesaat saya terduduk di tepi kasur, giliran pengar di kepala dan rasa lapar yang menyerang. Saya beranjak ke bawah, membuat suara hentak berisik di anak tangga. Supaya Bung Yap dan Bung Jun juga sama-sama bangun untuk sarapan. Tapi, setelah semangkuk sereal dan dua buah pisang tandas, saya tetap tak melihat keduanya. Dengkur Bung Jun dan Bung Yap juga tak saya dengar.

Matahari sudah mengintip dari ventilasi udara di atas jendela, beberapa jam lagi sinarnya dapat membakar kulit pucat orang-orang sini. Membuatnya cokelat gosong, seperti pisang goreng. Saya diberi tahu Bung Jun agar mengoles pelembap bibir dan sunblock bila mau jalan-jalan. Sekali saya lalai, bibir saya pecah-pecah seperti reptil yang sedang berganti kulit.

Ponsel saya berdering. Di suatu tempat, di pojok, atau di dalam saku celana?

Entah saya letakkan di mana benda sialan itu. Saya tak mengingat apa-apa setelah jackpot tadi malam. Deringnya memang menyebalkan, tepatnya mengganggu. Tak ada nada dering yang dapat disebut lumayan. Memangnya, selama ini ada nada dering yang ramah di telinga? Nada dering yang diciptakan pabrik ponsel selalu membuat penggunanya gusar. Bila mereka dapat menguasai rasa gusar, maka mereka akan menekan tombol “answer”. Saya memilih mode “senyap” karena saya benci isi kepala saya yang tak seberapa ini dibuyarkan nada dering yang kunyuk itu. Perkaranya cuma satu: rutinitas belakangan yang saya tempuh melarang saya untuk pura-pura tuli.

Arsip Cerpen di Indonesia