Saya harus menjawab beberapa panggilan dari kolega. Utamanya para kolega yang menagih janji kedatangan. Atau telepon dari Bung Yap di tengah malam, memastikan saya aman, keluyuran dengan sadar, tidak tersesat karena salah jurusan. Juga dari Bung Jun, memberi tahu saya agar selalu waspada. “Jangan tengok ke belakang bila dalam satu blok lebih seseorang tetap mengikutimu,” katanya suatu hari.
Sekarang saya hanya bisa menebak, pada pukul delapan pagi seseorang dari perpustakaan universitas akan menelepon untuk memastikan reservasi yang telah saya buat. Dan seseorang, entah pria atau perempuan, juga turut memastikan bahwa saya bukan orang teledor. Barangkali mereka sedang mendengus, atau mengerutkan bibir sambil membuat tanda centang di atas nama saya yang tertera di buku daftar tamu.
Lalu ponsel berhenti berdering. Suasana sunyi. Ranting poplar di halaman berkeretak. Biasanya Bung Yap menyeduh kopi untuk kali kedua, dan jari-jari Bung Jun meloncat-loncat di atas keyboard komputer. Saya memasukkan apa saja yang bisa saya masukkan ke ransel pemberian Bung Jun. Buku saku sejarah Amerika modern, rute bus greyhound, jadwal subway, kamus Inggris-Jerman, almanak, teori sastra pasca-kolonial, buku catatan, kertas-kertas, tiket subway dua hari yang lalu, dan botol air mineral.
Tapi tidak untuk hari ini. Tak ada lagi bayangan jendela, matahari sudah jauh meninggi. Saya naik ke lantai dua, masuk ke kamar dan menyalakan komputer. Membuka Google dan mengetik “Kudeta Nikaragua” lalu muncul ratusan laman situs dan blog. Saya membuka sebuah kanal warta yang diasuh Bung Yap, membaca laporannya dan mengunduhnya. Kemudian saya membuka kanal video dan mengunduh dokumentasi karya Bung Jun. Saya teringat betapa leletnya Internet di Indonesia dibanding di sini. Kata menunggu tak berlaku di era Internet sekencang ini.
Bung Jun pernah memberi saya pelajaran bahwa pemerintah selalu merekam dan memonitor kita lewat peranti yang terhubung ke Internet. Semula saya tak yakin. Tapi beberapa kawan dinyatakan hilang setelah kudeta besar itu terjadi, saat kali terakhir mereka mengunggah foto-foto dan catatan kekejian aparat negara terhadap para oposisi. Dari situ saya memutuskan puasa Internet, dan menggantungkan hidup pada selembar kartu anggota perpustakaan.
Hingga saya terbang ke Boston dan memakai koneksi Internet komputer di kediaman Bung Jun. Saya pikir itu cukup aman, bilapun ada serangan peretas, maka sang pelanggan koneksi yang akan terserang (dan terancam?) lebih dulu. Saya tak meninggalkan jejak apa pun, tak satu pun media sosial, juga e-mail. Semuanya kembali seperti era sebelum Internet. Semuanya terhubung lewat pesawat telepon. Dan saya belum menemukan ponsel keparat itu.