Boston: Ketika Ponsel Berdering

Di mana ponsel kunyuk itu? Saya membongkar lemari. Baju dan buku saya hamburkan dari dalam lemari berpelitur cokelat itu. Kedua laci saya cabut dan saya taruh di lantai; membongkar isinya, mengacak-acak isinya. Rupanya sia-sia, ingatan saya macet, saya tarik selimut kasur, bantal dan guling berseliweran jatuh ke lantai. Namun nihil. Di kolong kasur? Kosong. Dalam saku celana? Juga kosong. Entah kenapa saya bersijingkat ke kamar mandi, membuka lemari kaca yang tergantung di dinding, dan hanya menemukan pasta gigi dan sebatang sikat gigi.

Hanya sebatang sikat gigi yang masih kering dan bersih.

Saya berlari ke dapur, membongkar wadah apa pun yang kedap udara dan tak tersinari matahari. Tetapi seperti menjaring udara, ponsel itu tetap tak bisa saya temukan. Saya berusaha mengingat kali terakhir saya menjamahnya, namun ingatan saya mentok di rasa mual yang tak tertahankan yang membuat saya ambruk. Saya mengingat-ingat lagi sumber suara ponsel itu berdering. Tapi ingatan saya kabur. Jika tidak salah, apakah saat saya sedang sarapan? Atau saat saya masih setengah sadar di tepi kasur?

Selama saya menginjakkan kaki di kediaman Bung Yap, saya tak pernah melangkahkan kaki ke kamarnya. Saya tak pernah mengetuk pintu kamarnya, juga kamar Bung Jun. Kamar mereka selalu tertutup dan itu saya pikir hal yang wajar. Tak ada desakan khusus yang membuat saya perlu mengetuk pintu kamar mereka. Keduanya selalu saya temui bertumpang kaki pada satu bangku di kamar baca, letaknya agak menjorok di samping ruang tamu di mana saya keluar-masuk rumah. Di situ mereka kerap membaca buku, sesekali menyeruput kopi dan merokok kretek.

Saya melangkah menuju kamar Bung Yap. Ia lebih tahu isi rumahnya dibanding saya sebagai tamunya. Ketukan tiga kali saya rasa cukup. Saya tambahi dua ketukan lagi. Saya berdehem dan memanggil namanya. Tapi tak ada jawaban. Saya genggam daun pintu bulat itu, saya putar perlahan, saya dorong pintu kayu tebal bercat putih kusam itu. Terdengar denyit engsel yang ringkih.

Jantung saya mau copot. Saya tak percaya apa yang baru saya lihat.

Belum sempat nganga mulut sendiri saya tutup, terdengar ponsel berdering nyaring. Dering yang entah berasal dari mana. Dering yang terdengar seperti jeritan meronta-ronta, bergema, mengisi seluruh ruang. Saya menghambur ke luar rumah. Di luar sungguh sepi. Matahari nangkring di atas kepala.

Arsip Cerpen di Indonesia