Dongkrek

Si buta tertawa bagai raja. Kebahagiaannya ialah kesengsaraan bagi manusia. Pada terik siang, ia berkata, “Aku suka lihat manusia teguk air mata. Itu lelucon luar biasa. Apalagi lihat mereka tak punya kulit, tak punya perut. Tinggal rangka. Haha-ha!”

Buta lain kejar Roro Tumpi, gadis melati nun jelita. Mereka berlarian dari kampung ke kampung; meliuk di sawah Balerejo, melekuk di bibir Caruban. Hingga kembali ke tanah gersang Mejayan. Si buta menarik selendang Roro Tumpi dan gadis itu meraih serabut rambut si buta. Mereka tertumus, bergelimpangan di pusat hutan. Saling pandang takdir; siapa bakal menang dan siapa bakal hilang.

“Mundurlah. Jangan sentuh aku!” gertak Roro Tumpi, ketakutan.

Si buta menyeringai. “Siapa pula kau, suruh-suruh aku seenak jidat. Jelas kau tak punya upah buat aku hengkang. Aku bakal membangkang.”

“Terkutuk!”

“Terakuk!”

“Enyah kau si sialan dari perut Mejayan!”

Buta itu tambah menyeringai. Makin lebar. Roro Tumpi bagai ikan lepas ke daratan. Seketika gadis malang itu meronta tertahan setengah terbahak. Sebab, tangan buta telah mencekik batang lehernya. Mungkin, supaya tak dapat minta ampunan. Ya, bernapas pun sulit, apalagi keluarkan permintaan.

Di sisi lain, muncullah tiga buta dan seorang mawar aduhai yang disapa Roro Perot. Mereka berlarian, tebas hutan. Menuju pesakitan Roro Tumpi. Dua kembang itu sama merana. Tinggal tunggu hitungan, singkaplah sudah dua pilihan: nyawa atau beja yang mereka dapatkan.

Meski sama-sama bernasib malang, Roro Tumpi dan Roro Perot tetap beda. Dua dara itu memang sama-sama kunyah sirih, tapi satu di antara mereka hobi ngerumpi. Itulah kenapa mulut Roro Perot merot ke kanan. Sebab, ia senang menapaki telinga orang.

Warta tentang pagebluk itu, siapa yang tahu bila Roro Perot tak menapaki telinga orang. Sering kali ia singgah di peken, cakruk, pematang paripari, ladang, pawon tetangga, dan di mana saja, buat menyebarkan warta mengerikan itu. Orang menganggap ia bagai radio cuma-cuma. Meski tak tahu kebenaran atau kebohongan yang ia bawa. Kini, Roro Perot menatap bala; butabuta itu siap melenyapkan mulutnya.

Empat buta mengepung dua kembang. Roro Tumpi memeluk tubuh lunglai Roro Perot. Andaikan tak beja, mereka berharap abadi dalam sejarah.

Arsip Cerpen di Indonesia