Dongkrek

Namun, sebelum dua kembang itu diperkosa dan dibunuh, datanglah lelaki paruh baya dari barat. Ia bawa tongkat, bawa azimat. Rambutnya putih susu. Menjuntai sebahu. Kulit wajahnya penuh gelombang; lipatanlipatan usia. Bila berjalan, ia bagai sedang cari receh di jalanan. Matanya gemar menatap tanah, entah sedang mengira langkah, agar tak tersesat ke neraka atau tidak, tak ada yang paham. Pundaknya seperti menumpu beban dunia. Jalannya lambat. Sebab, kakinya ialah tongkat.

Si kakek membelah ketakutan. Roro Tumpi dan Roro Perot merayap sembunyi di belakang tubuh reyotnya.

“Jawablah, enyah dari Mejayan… atau lenyap bagai jelaga?”

Empat buta terkekeh. Mana ada pahlawan reyot hilang daya dilawan usia. Tinggal jentikan jari, rubuhlah orang sepuh itu. Salah satu dari buta beri saran agar si kakek menghabiskan masa tua dengan menyesap teh di rumah. Atau, bermain bersama cucu tercinta, daripada melakukan hal sia-sia; melawan buta gagah sukar dirubuhkan.

Si kakek mengacungkan tongkat tepat di depan butabuta itu.

“Apakah kalian lupa arah pulang? Izinkan kuantar tualang ke Jahanam. Paling tidak, kalian dapat melihat api Tuhan, meskipun dengan gelesotan,” sahut si kakek.

“Tidak, tidak,” sanggah salah satu buta. “Biar kami yang antar kau pulang ke rumah. Agar hangat teh masih terasa di lidah. Atau, cucumu tak merengek minta dongeng. Bukankah itu lebih menyenangkan?”

Tongkat itu Kakek goyangkan dan tercipta pusaran topan. Empat buta penyebab pagebluk pusing tujuh keliling. Tubuh mereka teroleng-oleng. Terbawa arus pusaran angin. Kadang-kadang menabrak badan satu sama lain. Dan, berakhir dengan terjerembap ke bawah, mencium rupa tanah.

Roh-roh jahat yang semayam, dedemit, setan, dan iblis sirna dari Mejayan. Mereka kalangkabut. Berlari dari kejaran tongkat mandraguna.

***

Prawirodipuro keluar dari Gunung Kidul. Ia bawa wangsit. Bawa serta adegan yang bikin pening kepala. Dan, berniat menyampaikan ke telinga orang-orang buat jadi kesenian. Kesenian yang bakal diabadikan sejarah sebagai pengusir roh jahat. Penumpas buta-buta. Penyirna dedemit.

Di tanah Mejayan, pagebluk itu hilang. Orang-orang memainkan adegan. Memukul gong, bonang, saron, dan kenong. Serta memutar korek. Hingga terdengar alunan nada syahdu dan mistis. Pementas memakai beberapa rupa topeng. Dua gadis, dua kembang, kenakan topeng RoroTumpi dan Roro Perot. Empat sekawan, pakai topeng mengerikan. Dan, si sepuh ambil yang kulitnya telah melepuh.

Arsip Cerpen di Indonesia