Para penabuh isyaratkan panggung mesti disentuh. Tujuh pementas naiki tangga buat menuju istana pertunjukan. Bersama iring-iringan musik, mereka lekas mainkan hal mistis. Suara-suara musik merambat ke lantai, ke kolong panggung, ke telinga penonton. Terdengar dong, tertangkap krek. Kesenian dongkrek. Penonton terhibur, kebosanan kabur. Tapi mesti jaga kubur agar yang gaib tak balik ke tanah leluhur. Rasuki jiwa luhur. Sebab, sejatinya, di hati manusialah roh jahat itu tumbuh subur. (28)
Madiun, Agustus 2019
Catatan:
Buta: raksasa; lara: sakit; brem: jajanan tradisional Madiun; pari: padi; gemah ripah loh jinawi: kekayaan alam berlimpah; beja: beruntung; merot: menyamping (tentang mulut); peken: pasar; pawon: dapur.
Hendy Pratama, lahir 3 November 1995 di Dolopo, Madiun. Bergiat di komunitas Langit Malam dan Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo. Kini sedang menyelesaikan buku kumpulan cerpen perdana.