Oleh Mas Oco (Lampung Post, 03 Maret 2019)

Teriakan si Cupi Kepiting membuat suasana di kawasan hutan mangrove pagi itu mendadak gempar. Tery, si Burung Trinil, yang sedang bersantai di ranting pohon bakau langsung melesat menghampiri sahabatnya itu.
“Ada apa, Cupi? Sepagi ini, kamu sudah mengagetkanku.” Tanya Tery keheranan.
“A…aku melihat seekor burung asing tergeletak di atas akar bakau, di tepi hutan ini, Tery,” panik Cupi Kepiting.
“Kalau begitu, kita harus segera menolongnya. Ayo, tunjukkan padaku di mana posisi si burung itu!” Seru Tery si Burung Trinil.
“Ikuti aku, Tery!”
Cupi si Kepiting bergegas menuju tepi hutan. Tery pun mengikutinya dengan terbang rendah. Lalu, hinggap dari ranting ke ranting pohon bakau, di sela-sela hutan yang luas dan rimbun itu.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah sampai di tepi hutan yang dimaksudkan oleh si Cupi Kepiting. Benar kata Cupi! Di tempat itu, tampak seekor burung yang memiliki paruh panjang tergeletak pingsan.
Cupi Kepiting dan Tery Burung Trinil segera bekerja sama memindahkan posisi tubuh burung asing yang malang itu ke tempat yang lebih nyaman. Selanjutnya, Cupi menggoyang-goyangkan tubuh si burung dengan kedua capitnya. Tidak lama kemudian, si burung paruh panjang itu sadar dari pingsan.
“Oh! Si…siapa ka…kalian? Di…mana a…ku,” ujarnya lirih.
“Tenangkan dirimu, Sobat! Jangan terlalu banyak bergerak dulu! Tubuhmu masih sangat lemah. Percayalah, kami tidak akan menyakitimu,” ucap si Cupi Kepiting ramah.
“I…ya, terima kasih. Badanku memang terasa lemah sekali,” ucap burung berparuh panjang itu sedih.
“Iya, kamu harus banyak beristirahat. Kami berdua akan menjaga dan menemanimu di sini.” Sahut Tery. “Oya, kenalkan, aku Tery si Burung Trinil.”
“Dan aku Cupi si Kepiting!” Timpal Cupi sambil menggerak-gerakkan capitnya.