Oleh Irfan Hawary (Lampung Post, 10 Maret 2019)

SALWA tidak ingat apa yang telah terjadi dengannya. Saat Salwa sadar ia sudah berada di rumah sakit di ruang Melati. Ibunya yang sedang menunggunya, terlihat begitu lega saat Salwa siuman.
“Apa yang terjadi denganku, Bu? Bagaimana Salwa sampai ada di sini ?” tanya Salwa heran.
“Tadi pagi Salwa pingsan di kelas, karena Salwa lama tidak sadarkan diri, maka Ibu dibantu Pak Herman membawamu ke rumah sakit,” ucap Ibunya menjelaskan.
Salwa memijit kepalanya yang terasa sakit. Belum lagi perutnya yang terasa mual. Ibu menyarankan agar Salwa tidur kembali. Salwa mengikuti saran dari Ibu. Ia mencoba untuk tidur. Tapi rasa mual membuatnya kesulitan agar bisa tidur lagi.
Salwa jadi teringat dengan teman-teman sekolahnya. Apakah mereka mengkhawatirkannya? Saat melamun seperti itu, seorang anak mendekatinya.
“Kamu sakit apa?” ucap anak itu membuat Salwa terkejut.
“Sejak tadi kepalaku sebelah terasa sakit, perutku juga terasa mual,” Salwa menjelaskan.
“Oh begitu, Kamu yang sabar ya Salwa, semoga kamu segera baikan,” ucap anak itu yang ternyata bernama Susi.
Salwa berusaha tersenyum saat mendengarnya, meskipun tidak mudah melakukannya dalam kondisi sakit. Lalu Susi bercerita tentang penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Ia sakit berbulan-bulan dan mengharuskannya menginap lama di rumah sakit.
Kini giliran Salwa yang menyemangati Susi. Tetapi Susi malah terlihat sedih waktu Salwa mengucapkannya. Salwa jadi khawatir ucapannya menyinggung Susi. Apa Susi sudah tidak yakin untuk sembuh karena terlalu lama di rumah sakit?
***
Ibu kembali dari luar. Ia telah membeli sesuatu. Salwa segera bangun, ternyata Ibu membawa lima buah apel. Salwa begitu senang saat mendapatkannya.
Melihat apel yang banyak, Salwa teringat Susi yang berada di ranjang sebelahnya. Tapi saat Salwa ingin menawarkan, Susi tidak ada.
“Ibu lihat Susi tidak?” tanya Salwa.