Oleh Alfi Syahri Ramadhan Chan (Analisa, 14 April 2019)

REMBULAN belum sepenuhnya beranjak dari singgasana malam. Matahari pun masih menunggu giliran menemani siang. Namun aku sudah berdiri di bawah lampu merah persimpangan Makam Pahlawan. Setiap hari, selesai salat Subuh, aku memang sudah berdiri di sini menjajakan beberapa surat kabar harian lokal. Ku dekati satu per satu mobil yang berhenti di belakang garis putih sambil menawarkan koran daganganku. Kalau lampu hijau menyala, aku melangkah balik lagi berdiri di trotoar jalan. Kumanfaatkan lampu hijau ini untuk membaca berita dari koran yang kujual. Kalau masih ada pekerjaan rumah yang belum selesai, biasanya kumanfaatkan waktu lampu hijau ini untuk menyelesaikannya.
“Semangat pagi, Nanta!” suara terdengar dari arah belakang. Aku mengenal baik suara itu. Suara itu adalah suara Pak Arman, polisi yang mengatur arus lalu lintas di persimpangan jalan Juanda ini. Setiap pagi Pak Arman menyapaku dengan kalimat yang sama. Awalnya aku heran kenapa harus ‘semangat pagi’ bukan ‘selamat pagi’. Tapi setelah pak Arman menjelaskan maknanya, aku malah kebiasaan memakai kalimat itu untuk menyapa kawan-kawanku di sekolah.
“Pagi… Pagi…. Pagi…. Luar biasa.”jawabku sambil mengepalkan tangan seperti yang diajarkan Pak Arman.
“Mantap. Sudah banyak yang laku koranmu?” tanya Pak Arman lagi.
“Alhamdulillah Pak. Sudah lima surat kabar yang laku, Pak.” Jawabku dengan mantap dan penuh semangat.
“Wah, bagus tuh. Kalau satu kali lampu merah terjual lima koran, kamu bisa jual dua puluh koran sebelum ke sekolah.” Lanjut Pak Arman sambil menepuk-nepuk bahuku.
Pak Arman memang pandai menyenangkan hatiku. Dia juga yang selalu memberiku semangat untuk tetap sekolah dan menggapai cita-cita. Pak Arman sering menasihatiku bahwa kemiskinan bukan alasan untuk tidak melanjutkan sekolah. Di waktu-waktu tertentu, Pak Arman terkadang berkisah tentang masa kecilnya yang harus bekerja di sawah untuk membantu ibunya sampai jadi polisi berpangkat Inspektur Polisi Satu.
***