Tamu Ketiga Lord Byron

Lama ia terdiam di atas ranjangnya. Mengatur debar jantung yang kacau-balau. Matanya masih nyalang terarah ke satu titik tembok kastil. Di benaknya, berseliweran tanya: Apa ini cuma mimpi? Atau nyata? Haruskah aku memastikannya? Aku tahu ruangan itu. Aku kenal lorong itu. Dan aku kenal wajah di dalam ruangan itu.

Dan beragam tanya lain tindih-menindih seketika itu juga.

Pada akhirnya, tamu ketiga itu turun dari ranjangnya. Ia mengambil mantel yang tersangkut di dekat pintu, mengenakan alas kaki, dan pelan-pelan membuka pintu kamarnya. Lorong kastil temaram. Tak ada satu pun yang terjaga di malam berbadai itu. Tidak Lord Byron, Mary, Percy, atau pun para budak kulit hitam yang mengurus kastil ini. Mungkin semua terlelap dalam baluran mimpi masing-masing. Mungkin mereka terlelap usai bercinta dengan kekasih masing-masing menjelang tidur tadi.

Ia berjalan pelan di sepanjang lorong kastil. Tujuannya sudah jelas, lorong temaram yang ada di ruang bawah tanah. Tamu ketiga pernah ke lorong itu, ketika di musim dingin bertahun lalu, kali pertama ia menginap di kastil ini. Malam yang diselimuti salju tebal, sedang tuan rumah belum pulang dari pelesirannya. Ia disuguhi anggur terbaik yang dimiliki Lord Byron. Rasa anggur terbaik itulah yang membuatnya mengenal lorong temaram itu. Dan seorang budak kulit hitam yang mengantarnya. Awalnya budak itu tak hendak meluluskan permintaannya, melihat tempat penyimpanan anggur terbaik Lord Byron. Namun, budak itu sadar, kalau orang di depannya adalah tamu kehormatan tuannya. Dan ia tidak ingin mendapat masalah dari tuannya.

Sedikit gemetar, tamu ketiga itu mendorong pintu ruang penyimpanan anggur itu. Gelap menyambutnya. Ia tidak bisa melihat apa pun di dalam sana. Beberapa menit kemudian, barulah ia bisa melihat bayangan tong-tong kayu berisi anggur yang tersimpan. Berjejer. Mata tamu ketiga melihat sekeliling, tak ada sosok yang ia lihat.

Ah, ini pasti hanyalah mimpi buruk, desau hatinya. Ia sedikit menyesali, mengapa ia terlalu bodoh mengikuti mimpi buruknya. Tamu ketiga berniat berbalik dan menutup kembali ruang itu. Tiba-tiba….

Arsip Cerpen di Indonesia