“Menara kastil, Tuan. Menara kastil. Rahasia terbesar Lord Byron….”
Seketika lutut tamu ketiga terasa lemas, hanya beberapa senti di depannya, sesosok mengerikan berdiri. Sepasang matanya pecah, bibirnya robek, wajahnya berlumur darah. Ia menyeringai, mengerang, dan terlihat menggapai-gapai ke arah tamu ketiga. Mulut berlumuran darah itu terus meracau. Napas tamu ketiga tersengal. Saat tangan hitam itu hampir menjangkaunya, ia tersadar, dan terburu membanting pintu itu.
Setengah berlari, tamu ketiga menuju kamarnya. Ia menghempaskan tubuh di atas ranjang dan menutup seluruh badannya. Wajah mengerikan itu masih bergentayangan dalam benaknya.
.
SEPERTI Mary dan Percy yang menginap beberapa malam di kastil Lord Byron, demikian juga tamu ketiga. Bukan lantaran ia berniat mengikuti taruhan yang diadakan Lord Byron kepada Mary dan Percy, walau sekarang ia sudah punya cerita mencekam tentang roh budak Lord Byron yang dihukum cambuk hingga mati itu. Bukan. Bukan itu alasan tamu ketiga.
Entah, mendadak saja tamu ketiga begitu penasaran dengan hantu budak itu. Terlebih, sejak mimpinya yang mengerikan itu. Sejak saat itu, setiap malam, ia selalu bermimpi buruk. Bermimpi melihat hantu budak itu mengerang-ngerang, menjerit, melolong, dan meratapi nasibnya yang malang. Lalu, di ujung mimpi itu. Hantu budak itu selalu mengatakan hal yang sama: Saya mengetahui rahasia terbesar Lord Byron di menara kastil.
Rahasia apa yang diketahuinya sehingga Lord Byron menjatuhkan hukum cambuk sampai mati kepada budaknya itu. Lalu, mengapa kabar lain yang beredar? Kabar yang tamu ketiga ketahui adalah: Lord Byron menghukum mati budaknya lantaran berniat tak senonoh hendak menyetubuhi adiknya, Augusta Leigh. Ah, kepala tamu ketika berdenyut-denyut. Sekali waktu, terbersit niatnya untuk menanyakan hal itu secara langsung kepada Lord Byron. Perihal mimpi buruknya itu. Tapi, tamu ketiga mengurungkan niatnya. Tentu Lord Byron akan mengisahkan cerita yang sama, seperti yang telah beredar.