Tamu Ketiga Lord Byron

Semakin tamu ketiga memikirkan mimpi buruknya yang begitu nyata itu, semakin besar hasratnya mengetahui rahasia terbesar Lord Byron di menara kastil itu. Tapi, ia seolah tak berani menguaknya. Bukan pula lantaran ia merasa takut akan Lord Byron. Ada sebab lain, ia tidak ingin mengusik Lord Byron. Dan mati-matian tamu ketiga menikam rasa penasaran yang tumbuh kembang di dadanya.

Pada akhirnya, tamu ketiga menyerah juga. Rasa penasaran itu begitu kuat bercokol di dadanya. Terlebih dengan mimpi buruk yang semakin malam semakin nyata ia rasakan. Ia ingin menguak rahasia besar Lord Byron itu. Ia tak kuasa menahan rasa penasarannya lagi. Tapi, tamu ketiga hendak menemukan versi lain. Bukan versi yang telah diceritakan Lord Byron.

Mulanya, tamu ketiga berusaha mengorek keterangan dari budak-budak yang mengurus kastil ini. Sayangnya, tak ada yang berani membuka mulut lebih lebar. Semua terburu-buru pergi dan menghindar bila tamu ketiga menanyakan tentang budak yang dijatuhi hukuman mati itu. Dan ia berpikir untuk menyerah saja. Mengakhiri mimpi buruk itu dan tidak memperdulikannya. Hingga, di malam yang kembali berbadai itu, tamu ketiga bermimpi yang sama.

“Sekarang, Tuan. Di menara kastil. Ada rahasia besar Lord Byron.”

Tamu ketiga tercekat. Ia ngeri melihat wajah hancur itu kembali berbicara kepadanya. Keringat membasahi pelipisnya. Guntur di luar berdentam, bersahutan dengan petir. Lalu, angin bersiut keras. Hujan telah turun demikian lebat. Suara pepohonan di sekitar kastil yang dicabik-cabik badai seperti jeritan roh dari alam gaib. Mimpi menakutkan itu benar-benar telah mengganggunya.

Sejatinya, tamu ketiga tak ingin memperdulikan mimpi buruk itu lagi. Ia berniat kembali melanjutkan tidurnya, menarik selimut, dan menghabiskan malam berbadai ini dengan meringkuk di atas ranjang. Namun, matanya yang terbuka lebar melihat sesuatu di menara kastil Lord Byron. Jendela kamarnya memang menghadap ke menara kastil itu. Menara itu terlihat terang. Tak seperti malam biasanya yang gelap. Seketika, kata-kata hantu budak itu teringang di telinga tamu ketiga: Rahasia besar Lord Byron.

Arsip Cerpen di Indonesia