Tamu ketiga turun dari ranjangnya, menjangkau mantel, dan mengenakan alas kaki. Dengan degup yang tak biasa di dadanya, ia berjalan sedikit tergesa ke menara itu. Lalu, berubah pelan ketika hampir mendekatinya. Di antara salakan guntur dan petir, serta siutan angin dan tempias hujan, tamu ketiga mendengar suara orang. Jantungnya semakin berdebar. Ia menajamkan telinga. Suara-suara di menara kastil itu tak seperti percakapan biasa. Ada suara-suara yang membuat wajahnya memerah dan sesuatu bergerak di balik celana. Dan ia nyaris terpekik begitu melihat yang terjadi di sana: Lord Byron tengah bergumul dengan adiknya, Augusta Leigh!
.
SEPERTI yang tamu ketiga ceritakan padaku, malam itu juga ia mengambil seluruh barangnya dari dalam kamar, lalu membangunkan budaknya yang terlelap bersama budak-budak Lord Byron lainnya, dan menerobos hujan badai. Rahasia terbesar itu terlalu menakutkan baginya ketimbang hantu budak yang saban malam hadir di mimpinya.
Mungkin, bila tamu ketiga menuliskan cerita mencekam yang awalnya ia dapatkan juga dari mimpi serupa Mary, bisa jadi ia yang memenangkan taruhan itu. Atau bisa jadi pula, novelnya akan melegenda seperti novel Mary. Sayangnya, tamu ketiga merasa mimpi itu terlalu buruk untuk diceritakan. Dan mungkin, bila aku tidak bertemu dengan tamu ketiga di sebuah bar yang masih buka saat hujan badai malam itu di mana kami minum bersama sampai mabuk dan ia menceritakan kisah mencekamnya itu, maka tak akan ada yang tahu, kalau selain Mary dan Percy, ada tamu ketiga yang diundang Lord Byron untuk menginap di kastilnya tepi Danau Geneva pada musim panas 1816. (*)
.
.
C59, 6 Oktober 2011
Guntur Alam lahir di Tanah Abang, Muara Enim, 20 November 1986. Alumnus Teknik Sipil Universitas Islam ‘45, Bekasi, ini kini menetap di Bekasi, Jawa Barat.
.