Si cewek memiringkan tubuh dan meletakkan tangannya di wajah si cowok.
“Cium aku,” kata si cewek.
“Ayo bangun,” tukas si cowok.
“Cium dulu,” ujar si cewek.
Dia memejamkan mata dan memeluk si cowok.
Si cowok menukas, “Aku akan memeriksa apakah ada orang di dalam rumah.”
Tapi dia hanya bangkit duduk dan tetap diam di situ, seakan-akan sedang menonton televisi. Lampu-lampu menyala di rumah-rumah sekitar situ dan di jalanan.
“Tidakkah lucu jika…,” si cewek menyeringai, tapi tak menyelesaikan kalimatnya.
Si cowok tertawa, tapi tanpa alasan yang jelas. Tanpa alasan pula ia menyalakan lampu baca.
Si cewek menghalau seekor nyamuk, sementara si cowok bangkit berdiri dan merapikan kemejanya.
“Aku akan memeriksa apakah ada orang di dalam rumah,” ujarnya. “Tampaknya sih kosong. Tapi kalau ada orang, aku akan menanyakan apa yang sedang terjadi di sini.”
“Berapa pun harga yang mereka minta, tawarlah sepuluh dolar lebih rendah. Biasanya begitu,” ujar si cewek. “Lagi pula, mereka barangkali sedang putus asa atau semacamnya.”
“TV ini bagus,” sahut si cowok.
“Tanyakan berapa harganya,” timpal si cewek.
Si lelaki muncul dari arah samping rumah dengan membawa bungkusan. Dia baru membeli roti, bir, dan wiski. Ia melihat sebuah mobil di halaman dan si cewek di atas ranjang. Ia juga melihat televisi menyala dan si cowok di beranda rumah.