“Hai,” sapa lelaki itu kepada si cewek. “Kamu sudah mencoba ranjangnya. Nyaman, kan?”
“Hai,” ujar si cewek seraya bangkit. “Saya hanya mencoba-coba.” Dia menepuk-nepuk ranjang itu. “Ranjang yang bagus.”
“Ya, ranjang yang bagus,” sahut si lelaki seraya menaruh kantung belanjaannya lalu mengeluarkan botol bir dan wiski.
“Tadinya kami kira tak ada orang,” kata si cowok menimbrung.
“Kami tertarik membeli ranjang ini dan mungkin TV. Barangkali juga bufet itu. Berapa harga ranjang ini?”
“Mungkin lima puluh dolar saja,” kata si lelaki.
“Bagaimana kalau empat puluh?” tawar si cewek.
“Bolehlah,” sahut si lelaki.
Ia mengeluarkan sebuah gelas karton. Ia lepaskan koran yang membungkus gelas itu lalu membuka tutup botol wiski.
“Kalau TV berapa?” tanya si cowok.
“Dua lima.”
“Boleh lima belas?” kata si cewek.
“Baiklah. Lima belas,” sahut si lelaki.
Si cewek menatap si cowok.
“Kalau kalian mau minum, ada gelas di dalam kardus,” kata si lelaki. “Aku mau duduk di sofa.”
Si lelaki duduk di sofa, bersandar, dan menatap si cewek dan si cowok. Si cowok mengambil dua buah gelas dan menuangkan wiski.