Si cewek menukas, “Kamu tidak mabuk.”
“Aku mabuk,” kata si cowok.
Si lelaki memutar lagi piringan hitam dan si cowok berkata, “Aku mabuk.”
“Berdansalah denganku,” kata si cewek kepada si cowok, lalu kepada si lelaki. Ketika si lelaki bangkit dari duduknya, si cewek menghampirinya dengan lengan terkembang.
“Orang-orang di sana itu menonton kita,” ujar si cewek.
“Tak apa-apa,” kata si lelaki.
“Ini tempatku,” ujarnya.
“Biar saja mereka menonton,” kata si cewek.
“Betul,” ujar si lelaki. “Mereka mengira mereka telah melihat segala yang ada di sini. Tapi mereka belum melihat ini, kan?”
Ia merasakan dengus napas gadis itu di lehernya.
“Kuharap kamu menyukai ranjangmu,” katanya.
Si cewek memejamkan mata lalu mengerjap membuka mata. Dia menyurukkan wajahnya ke bahu si lelaki. Diraihnya lelaki itu lebih dekat ke tubuhnya.
“Anda pasti sedang putus asa atau yang semacam itu,” kata si cewek.
Beberapa minggu kemudian, gadis itu berkata, “Lelaki itu berumur separuh baya. Segala harta bendanya ada di halaman itu. Sungguh. Kami mabuk dan berdansa. Di halaman. Ya, Tuhan. Jangan tertawa. Ia memutarkan kami musik dari piringan hitam. Lihatlah pemutar piringan hitam ini. Lelaki itu memberikannya kepada kami dengan seluruh piringan hitam tua ini. Kamu mau lihat?”
Dia terus berceloteh. Dia mengatakan semua itu kepada semua orang. Sebenarnya ada hal lain yang ingin dia coba ungkapkan. Namun, setelah beberapa waktu, dia tak pernah berhasil mengatakannya. Maka dia berhenti mencoba. (*)
Raymond Carver (1938-1988) adalah penulis Amerika Serikat. Cerita di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia.