“Cukup,” ujar si gadis. “Aku mau wiskinya dicampur air putih.” Dia menarik sebuah kursi dan duduk di muka meja.
“Ada air minum di wadah air sebelah sana,” kata si lelaki. “Nyalakan saja.”
Si cowok kembali dengan membawa wiski campur air. Ia berdehem dan duduk di muka meja. Ia menyeringai. Tapi ia tak minum sedikit pun.
Si lelaki menatap sekilas ke televisi. Ia menghabiskan minumannya lalu mengisi lagi gelasnya. Ia menjulurkan tangan untuk menyalakan lampu sudut. Saat itulah rokoknya terlepas dari jepitan jemarinya dan jatuh di antara bantal-bantal sofa.
Si cewek bangkit untuk menolongnya mengambil rokok itu.
“Mau yang mana lagi?” tanya si cowok kepada si cewek.
Si cowok mengeluarkan buku cek dan menggigitnya seraya berpikir.
“Aku mau bufet itu,” kata si cewek.
“Berapa harganya?”
Si lelaki mengibaskan tangan. “Berapa maunya?” katanya.
Ia menatap mereka yang tengah duduk di muka meja. Dalam cahaya lampu ada sesuatu dalam wajah mereka. Tampak baik atau mungkin tampak licik. Sukar ditebak.
“Aku akan mematikan TV dan menyalakan musik,” ujarnya. “Pemutar piringan hitam ini masih berfungsi. Murah. Tawar saja.”
Ia menuangkan lagi wiski dan membuka botol bir.
“Semuanya dijual,” ujar si lelaki.