Mengapa Kalian Tidak Berdansa?

Si cewek memegang gelas dan si lelaki menuangkan minuman.

“Terima kasih,” kata si cewek. “Anda baik sekali,” tambahnya.

“Ini bisa bikin teler,” ujar si cowok. Ia mengangkat gelasnya dan menggoyang-goyangkannya.

Si lelaki menenggak habis minumannya lalu mengisi lagi gelasnya. Lalu dia mengambil kardus berisi piringan hitam.

“Pilihlah,” ujar si lelaki kepada si cewek seraya menyodorkan kardus berisi piringan hitam itu kepadanya.

Si cowok menulisi cek.

“Ini,” ujar si cewek, memilih secara acak, karena dia tak mengenal nama-nama di label piringan hitam itu. Dia bangkit sejenak lalu duduk lagi. Dia agak pegal.

“Saya pakai cek, tak cukup uang tunai,” kata si cowok.

“Boleh,” sahut si lelaki.

Mereka minum dan mendengarkan musik. Lalu si lelaki mengganti piringan hitam. Mengapa kalian tidak berdansa, Nak? Ia memutuskan akan mengatakan hal itu dan kemudian benar-benar mengucapkannya. “Mengapa kalian tidak berdansa?”

“Ah, tidak,” sahut si cowok.

“Ayolah,” ujar si lelaki. “Ini halaman rumahku. Kalian boleh berdansa kalau mau.”

Dengan lengan berpelukan, tubuh bersentuhan, si cowok dan si cewek bergerak maju mundur di halaman itu. Mereka berdansa. Ketika musik berhenti berputar, mereka berdansa sekali lagi. Lalu si cowok berkata, “Aku mabuk.”

Arsip Cerpen di Indonesia