Parutan kelapa sudah ia peras. Santan ditampung. Bumbu dihaluskan. Kegiatan memasak opor sudah dimulai. Ia tinggal mengupas telur rebus untuk dimasukkan ke dalam opor itu.
Suara takbiran di kaset membuatnya terhibur. Meski, malam Lebaran ini untuk pertama kali akan dia lewati tanpa suami. Ia ingat, begitu anak dan cucunya pulang mudik kemarin, yang mereka lakukan adalah membersihkan ruang tamu, membersihkan buku-buku warisan suami dan membersihkan halaman rumah. Tujuannya agar rumahnya siap menerima tamu sehabis salat Id. Sanak saudara, adik-adik ipar, tetangga, dan murid-murid suaminya. Untuk urusan kue-kue dan es sirup sudah disiapkan anak-anak dan menantunya. Ia hanya memikirkan ketupat dan sayurnya.
Sumi berdiri, menghentikan kegiatan di dapur. Kaset takbiran habis. Ia ingin memutarnya dengan membalikkan kaset itu. Tiba-tiba bel berbunyi. Dengan bergegas dia menyambar kerudung lalu berjalan ke ruang tamu. Ia membuka pintu.
Di muka pintu berdiri seorang lelaki memakai pakaian harum dan berkopiah.
“Oh, Pak Tarman, ada apa?”
“Mbak, saya mau mengembalikan buku ini.”
“O, ya.”
“Tapi saya mau pinjam buku lagi. Jilid berikutnya.”
Sumi ragu sejenak. Alangkah tidak eloknya, malam hari, apalagi malam Lebaran, dia menerima seorang tamu lelaki di rumah sendirian.
“Boleh ya Mbak. Untuk mengisi hari libur saya kan mau membaca buku jilid berikutnya.”
Lelaki itu memang teman suaminya. Suka meminjam buku. Bila suaminya masih hidup, ia akan dengan senang hati mempersilakan masuk dan memanggil suaminya menemani Tarman. Tetapi kini, dia sendirian.
“Boleh ya Mbak? Itu bukunya kelihatan dari sini,” kata Tarman sambil tubuhnya bergerak maju.