Tarman terkejut. Ia menengok dan memperhatikan piala dan medali itu. Selama ini, kalau ia bertemu dengan suami Sumi, ia tidak memperhatikan dua benda itu.
Begitu Tarman menengok dan memperhatikan dua benda itu, Sumi kembali menyerang cepat dan kuat. Ia mengirim dua tendangan berantai yang menyebabkan tubuh Tarman kembali terpental menimpa dinding.
“Kalau mau aku bisa membuatmu pingsan atau mati! Lihat apa yang aku pegang!” ancam Sumi.
Sumi memang cepat-cepat meraih tongkat hitam dari balik almari. Tongkat itu ia putar lalu ia gerakkan menjadi dua. Satu bagian dari tongkat itu adalah sarung dari pedang tajam yang mungil dan panjang. Mata pedang itu berkilauan terkena sinar lampu.
Tarman ketakutan. Ia tidak berani bergerak. Tangannya tidak lagi mengepal.
“Aku hitung tiga kali, kau harus keluar dari rumahku. Kalau kamu tidak mau keluar akan kupotong-potong tubuhmu!”
Tarman tidak menjawab. Dengan gemetar Tarman berjalan ke arah pintu. Ia buka pintu lalu keluar. Pintu ia tutup pelan-pelan.
Sumi masih memegang pedang itu untuk beberapa saat. Baru setelah terdengar suara sandal menjauh, lalu pintu pagar terdengar ditutup, Sumi berani menyarungkan pedang itu, mengembalikannya di balik almari. Ia kemudian mengintip keluar lewat celah pintu yang ia buka sedikit. Lelaki itu tidak tampak lagi.
Sumi membenahi ruang tamu, lalu kembali ke dapur.
Ketika anak keduanya datang bersama menantu dan cucu, Sumi langsung memeluk cucunya.
“Lho, Nenek kok menangis? Ada apa, Nek?”
Sumi diam saja. Ia eratkan pelukannya. Ia ciumi cucunya.
“Nenek rindu pada kakek ya?” tanya cucu lagi.