Malam Lebaran Paling Sunyi

Sumi mundur. Tarman menerobos masuk lalu berjalan ke arah almari buku. Sumi menjadi salah tingkah. Tetapi karena ia percaya kepada sahabat suaminya itu ia membiarkan Tarman membuka almari buku.

“Silakan pilih sendiri ya Pak. Sesudah dapat bukunya silakan keluar, pintunya ditutup. Saya mau menyelesaikan pekerjaan di dapur,” kata Sumi.

Ia melangkah ke dapur. Beberapa waktu kemudian, di dapur ia mendengar pintu ditutup. Sumi menyangka Tarman sudah pulang. Ia pun ingin memeriksa pintu depan. Ia berjalan ke arah pintu. Tetapi mendadak ia disergap dari belakang. Ia dipeluk kuat-kuat. Kedua tangan dan pinggangnya dikunci oleh dua tangan laki-laki.

“Pak Tarman, apa-apaan ini,” Sumi bertanya dengan suara agak keras.

“Sst…,” Tarman berbisik, “Jangan teriak Mbak. Saya hanya ingin mencium Mbak. Sudah lama tertarik pada kecantikan dan kemulusan tubuh Mbak Sumi. Engkau adalah bulan purnama hatiku.”

Sumi bergidik. Ia tidak takut, hanya kaget, jijik dan marah bukan main. Apalagi ketika ia merasakan ada gerakan tubuh dan kepala di belakangnya.

“Tengok ke belakang Mbak. Saya ingin merasakan lembutnya pipi Mbak.”

“Ya, tapi kendorkan dulu pelukanmu,” bisik Sumi pura-pura mau.

Begitu pelukan dikendorkan Sumi membuka kuncian itu lalu kedua tangannya menghantam wajah Tarman. Cepat ia gerakkan kaki, menendang perut lelaki itu.

Tarman mengaduh dan terlempar ke belakang. Wajahnya biru bengkak.

Tarman marah. Ia tersinggung mendapat penolakan Sumi. Apalagi dalam sekali gebrak Sumi berhasil menghantam wajah dan menendang perutnya.

“Perempuan tidak tahu diuntung,” makinya.

Tarman berdiri, memasang kuda-kuda, kedua tangannya mengepal.

Sumi tersenyum. “Hei lelaki brengsek, jangan coba-coba main kasar terhadapku di rumah ini. Kau belum mengenal diriku ya? Aku pernah menjuarai kejuaraan pencak silat nasional. Lihat itu piala dan medaliku,” kata Sumi sambil menunjuk ke piala di almari kaca dan medali yang tertempel di tembok.

Arsip Cerpen di Indonesia