Setidaknya dulu, bagi kami bertiga, Bara Abu pernah menjadi kawan seperjuangan. Walau cuma sebentar. Aku sendiri bertemu dengannya di sebuah acara baca puisi. Karena sama-sama dari kampus yang sama dan punya kesukaan yang sama, kami kemudian sepakat membentuk komunitas penyair. Saat itulah Gundari dan Nasir Umar bergabung. Sebenarnya masih ada lagi beberapa orang lagi yang bergabung. Namun sebagian dari mereka hanya panas-panas tahi ayam. Hanya kami berempat yang kemudian bertahan cukup lama.
Untuk mengirit pengeluaran, kami kemudian mengontrak rumah yang agak jauh dari kampus. Ada tiga kamar di situ. Satu kamar untukku. Satu untuk Bara Abu. Sedang satu kamar yang terbesar untuk Gundari dan Nasir Umar. Di rumah itulah sempat kenangan-kenangan tak terlupakan terjadi. Kami beriuran membeli kompor minyak bersama, dan di kala tak memiliki uang, kami bersama-sama membuat supermi dengan kuah yang banyak agar bisa merasa kenyang.
Tapi hanya beberapa bulan kemudian, sifat asli Bara Abu mulai terlihat. Ia ternyata orang yang sangat egois. Ia mulai menyimpan makanannya sendiri. Bahkan ia tak lagi membagi rokok bersama. Ia hanya mengeluarkan sebatang demi sebatang, untuk dirinya sendiri.
Keadaan makin memuncak saat Bara Abu mulai naik daun. Puisi-puisinya ternyata disukai redaktur sehingga bisa dimuat di mana-mana. Ia juga sempat memenangi salah satu sayembara puisi yang sangat prestisius. Satu lagi: ia mulai kerap diundang di acara-acara sastra.
Satu yang membuatku, Gundari, dan Nasir Umar makin iri adalah bukunya diterbitkan penerbit mayor. Bayangkan buku puisi di penerbit mayor, saat itu tentu sebuah keniscayaan. Gilanya lagi, buku itu laku. Sungguh, sepanjang masa itu, belum pernah ada satu pun buku puisi yang dicetak ulang, dan ia melakukannya untuk pertama kali. Asal tahu, di kalangan penerbit, buku puisi kerap disebut buku celaka nomor dua, sedang buku celaka nomor satu adalah kumpulan esai. Karena kedua buku itulah yang selalu membuat penerbit rugi.