Tentu saja, awalnya aku, Gundari, dan Nasir Umar bisa menerima perubahan sikapnya. Kesuksesan kadang memang membawa dampak buruk. Dan Bara Abu adalah contoh yang terlihat demikian jelas. Toh, bagaimanapun, kami sadar ia memang punya nilai plus dibanding kami bertiga. Kalau ada dua tipe penyair: yang pertama adalah penyair teks yang mahir menulis puisi namun tak pandai membacanya di panggung, bahkan bila memaksakan diri membacanya, orang-orang akan langsung mengantuk; yang kedua adalah penyair perform, yang memang suka sekali tampil. Cara membacanya juga biasanya luar biasa, walau puisinya sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan jarang dimuat, walau di koran ecek-ecek sekalipun. Bara Abu merupakan perpaduan keduanya. Itulah yang membuat kami mafhum bila ia bisa melesat seperti ini.
Aku sendiri mulai merasa bermasalah dengannya saat buku kumpulan puisiku terbit. Buku itu diam-diam kubiayai sendiri, ku-layout sendiri, kudesain sampulnya sendiri, bahkan kujual sendiri. Aku kemudian meminta Bara Abu untuk membedahnya. Kupikir nama besarnya bisalah sedikit mendongkrakku. Tapi yang terjadi, dia malah menjadi orang asing bagiku. Bagai bukan padaku, dia mengobok-obok bukuku dengan seenaknya. Hancur sudah bukuku di mata orang lain.
Aku tentu saja sadar, bakatku tak sebesar bakatnya. Tapi bukan berarti ia tak bisa membuat kalimat-kalimat menyakitkan itu menjadi lebih halus, bukan?
Sejak itulah aku memanggilnya Bara Asu, dan tak ingin lagi berhubungan dengannya.
Di hari H, aku ternyata dijemput oleh salah satu utusan dari keluarga Bara Abu. Maka dengan setengah hati, aku pun berangkat ke acara itu, Malam Mengenang Sang Penyair.
Seperti kuduga, acara berlangsung ramai. Hampir seluruh kursi di gedung terisi penuh. Ya, bagaimanapun, Bara Abu memang terkenal. Kematiannya membuat publik sastra di tanah air cukup kehilangan.