Malam Mengenang Sang Penyair

Di dalam gedung, aku menyapu pandangan mencari-cari Gundari dan Nasir Umar. Namun aku tak menemukan mereka ada di antara kerumunan orang-orang ini. Di depanku acara sudah berlangsung riuh. Ada acara mengheningkan cipta selama 7 menit, lalu performer beberapa penyair yang membacakan puisi-puisi Bara Abu.

Barulah setelah itu pembawa acara membuka acara testimoni. Sebenarnya inilah acara yang paling kutakutkan. Kupikir aku tak akan sanggup mengatakan apa-apa. Aku tak mau berbohong, tapi aku juga tak bisa berkata jujur karena tak mau melukai keluarga yang ditinggalkan. Maka itulah sebelum aku melangkah memasuki gedung tadi, aku sudah meminta izin pada keluarga Bara Abu agar tak memberi testimoni. Aku berpura-pura tenggorokanku sedang menderita radang parah.

Kini, kudengar pembawa acara mulai memanggil nama Gundari untuk maju ke depan. Aku tentu saja cukup terkejut. Apalagi saat melihat Gundari melangkah ke depan panggung.

Aku benar-benar tak bisa membayangkan apa yang akan diucapkan Gundari. Ia punya luka yang dalam, seperti diriku. Aku masih ingat bagaimana Bara Abu merebut Kristina dari tangannya.

Dulu, perlu kuakui Gundari adalah penyair terkeren di antara kami berempat. Ia sempat menjadi coverboy salah satu majalah remaja. Walau kere, dandanannya sangat dandy. Itulah yang membuat gadis-gadis jatuh cinta padanya. Namun dari semua gadis-gadis itu, hatinya ternyata tertambat pada Kristina. Dari salah satu puisinya kami tahu; setelah menemukan Kristina, ia tak ingin ke mana-mana lagi.

Sialnya, Bara Abu ternyata juga menyukai gadis itu. Karena saat itu mulai populer, ia kerap meminta Kristina tampil membaca puisi-puisinya di setiap acara-acara sastra. Diam-diam ia juga menghadiahi gadis itu buku-buku yang bagus. Maka seperti ilmu gravitasi, semua benda yang dilemparkan akan kembali tertarik ke pusatnya, maka Kristina pun akhirnya ikut tertarik pada Bara Abu.

Arsip Cerpen di Indonesia