Malam Mengenang Sang Penyair

Ini membuat Gundari begitu merana. Sebagai wujud kekecewaannya, ia langsung pergi meninggalkan rumah kontrakan kami. Yang lebih menyedihkan ternyata tak sampai di situ saja. Beberapa bulan kemudian, kami tahu, Kristina ternyata hanya dijadikannya pasangan kumpul kebo oleh Bara Abu.

Sungguh, aku bisa membayangkan seperti apa kedukaan Gundari. Maka itulah aku cukup degdegan mendengar apa yang akan terucap dari bibirnya.

Sejenak kulihat Gundari menelan ludah. “Bara Abu… hmmm, ia kawan yang sangat berbakat,” suaranya akhirnya terdengar pelan dan tak meyakinkan. “Aku… kagum dengan apa yang dicapainya. Masih kuingat saat kami merintis karier menjadi penyair bersama-sama di sebuah rumah kecil berbau minyak tanah. Hanya dialah yang kemudian… hmmm, sukses dengan mimpinya. Kupikir itu saja ucapan dariku. Terima kasih.”

Aku terdiam. Kulihat Gundari melangkah pelan kembali ke tempat duduknya. Aku yakin ia pastilah berjuang sangat keras mengucapkan kalimat-kalimat itu.

Sayangnya, aku tak lagi bisa memikirkan Gundari lebih lama karena pembawa acara sudah memanggil nama Nasir Umar. Ini membuat kepalaku langsung celingukan. Sempat aku berpikir Nasir Umar tak akan datang karena ialah yang paling keras di antara kami.

Tapi ternyata, ia datang. Langkah-langkahnya terlihat sangat ragu. Aku tiba-tiba jadi mengingat saat ia menonjok Bara Abu hingga terjengkang. Nasir Umar adalah penyair yang turun dari langit. Itu perumpamaanku untuknya. Kupikir dialah sebenarnya yang paling berbakat di antara kami berempat. Ia penyair sejati. Hanya menunggu ide datang, baru menulis. Sama sekali tak tergoda untuk dimuat di media. Tapi semua orang yang pernah membaca puisi-puisinya pastilah akan mengangkat topi untuknya.

Sampai suatu kali salah satu penyair senior membaca puisinya, ia kemudian menawarinya untuk mengikuti program residensi di Iowa. Nasir Umar begitu gembira dan segera melakukan aplikasi. Namun konfirmasi yang ditunggunya ternyata tak kunjung datang. Beberapa hari kemudian, ia baru tahu, jatah residensi dari Indonesia ternyata telah diwakili oleh Bara Abu.

Arsip Cerpen di Indonesia