Malam Mengenang Sang Penyair

Semua tahu, kesempatan emas kadang memang hanya datang 1 kali. Maka betapa marahnya Nasir Umar saat itu. Dibuangnya semua barang-barang Bara Abu yang ada di kamar. Kemudian di pertemuan pertama mereka, setelah Bara Abu pulang dari Iowa, ia menonjoknya beberapa kali.

Tapi malam ini, aku tak lagi melihat kemarahan seperti dulu. Nasir Umar hanya diam sejenak sebelum berucap pelan, “Bara Abu… ya, sama seperti yang diucapkan Gundari tadi… ia memang hmmm, penyair yang sangat berbakat. Aku kagum dengan apa yang sudah dicapainya. Ya, kupikir itu saja. Hmmm, terima kasih.”

Aku hanya bisa terdiam. Keadaan ini membuatku merasa janggal. Kedua kawanku itu bukanlah orang yang suka berpura-pura, tapi malam ini mereka melakukan itu.

Aku sedikit beruntung malam ini, tak akan melakukan kebohongan seperti mereka. Tapi ternyata, pembawa acara tetap memanggil namaku.

“Bapak Hanta sebenarnya sedang menderita radang, tapi tak afdal rasanya bila beliau tak mengucapkan sepatah dua patah kata untuk mendiang Bara Abu. Jadi, kami mohon kepada Bapak Hanta untuk maju ke depan….”

Aku hanya bisa menahan napas.

Kakiku seketika lemas.

***

Yudhi Herwibowo, Aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Novel terbarunya Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Noura).

 

Arsip Cerpen di Indonesia