Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep

Air Mata Warna-Warni

Apa arti sebuah cerita bagiku? Itu adalah pertanyaan yang aku pikirkan. Tetapi tak dapat aku jawab. Sebab, setiap ingin menjawab, aku selalu teringat pada masa kecilku. Sekitar tujuh tahunan. Pada masa ketika ada seorang ibu yang selalu membuntutiku ke mana saja. Apa itu di alun-alun, di kampung sebelah, atau bermain kelereng. Dan ibu itu, yang aku panggil dengan nama Mak Ca, adalah pengasuhku. Pengasuh yang sayang padaku. Pengasuh, yang meski tidak punya hubungan darah dengan keluargaku, tapi rasa sayangnya padaku tak terukur. Pengasuh, yang sebelum meninggal, masih sempat membelikan aku sebungkus nasi campur kesukaanku. Nasi campur dari warung pojok pecinan yang sangat terkenal dengan kelezatan acarnya.

Lewat Mak Ca, yang setiap malam, aku tidur di sisinya di kamar belakang, kerap mendengar sekian dongengnya. Ada Jaka Kendil, Pangeran Manuk, sampai pada dongeng yang aku pesan sendiri. Anehnya, di antara keremangan lampu, dan di antara suaranya yang pelan itu, aku seperti membayangkan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang terus aku bawa sampai kini. Yaitu, sebuah dunia yang gampang untuk diluweskan. Dalam arti, mungkin kali ini cerita tokoh A kalah. Tapi besoknya malah menang. Dan ada obat sakti yang mampu menjadikan si buruk rupa jadi tampan, dst, dst, dst. Jadinya, segalanya pun bisa terjadi, atau gagal sama sekali. Atau malah akan ada tokoh lain yang nyelonong.

Dan suatu hari, ketika Mak Ca diminta ayahku ke Surabaya, aku diajak serta. Kami berdua naik oplet yang berwarna hijau. Ongkosnya masih sekitar 25 rupiah. Sesampai di Surabaya (tepatnya di daerah Praban), aku melihat sebuah toko komik. Komik-komik yang dipajang begitu banyak. Kover-kovernya pun menyala dan bagus-bagus. Oleh Mak Ca, aku dibelikan dua buah komik. Harganya per komik 125 rupiah. Jika tak salah, komik itu bercerita tentang sekuel Labah-Labah Merah karya Kus Bram. Dan di sekuel itu, aku bisa melihat gambar-gambar yang menggetarkan. Gambar-gambar tentang kefantastisan sebuah perjuangan, misalnya: perjuangan Labah-Labah Merah melawan Manusia Kadal, atau Labah-Labah Merah melawan Manusia Kelelawar.

Nah, atas dua pengalaman masa kecil itu (dongeng Mak Ca dan komik), maka aku pun (mungkin) dapat menulis cerita. Dan karena, apa-apa yang aku rasakan sejak kecil adalah sebuah cerita yang gampang diluweskan, juga menggetarkan, dan fantastis, maka jangan heran jika di hampir semua cerita yang aku tulis pun begitu. Yang kata teman-teman (yang setelah membacanya), tak masuk akal, semau gue, dan jungkir-balik. Ha ha ha, aku cuma tersenyum mendengarnya. Yang jelas, ketika kata pertama aku pilih, maka cerita yang akan aku rajut, adalah cerita yang tak bisa aku bohongi. Seperti cermin yang menegak di hadapanku. Selalu menampilkan balik apa-apa yang ada di diriku. Apakah itu yang kelihatan nyata. Atau yang tersembunyi di lipatan diri yang paling dalam.

Arsip Cerpen di Indonesia